Jujur, gue masih janggal sama dia. Rasanya ada yang nggak nyambung.
Kalau ditimbang pakai logika orang kebanyakan yang masih sibuk mengejar dunia, kelakuannya itu benar-benar nyeleneh. Coba bayangkan. Tiket untuk hidup enak sudah di tangannya. Rumah ber-AC, tabungan aman, bisnis jalan, anak-anak lucu, karir suami-istri mapan. Naluri dasar manusia kan menghindar dari bahaya, tapi dia malah menyodorkan nyawanya ke tempat yang cuma berisi puing, bau mesiu, dan tangisan. Ke negeri yang menurut klaim CEO MBG dan Trump sedang akan diubah jadi modern dan damai itu.
Buat apa sih? Kurang tenar? Mana mungkin, pengikutnya sudah jutaan. Kurang uang? Jelas bukan.
Tapi, pas gue coba pikirkan pakai logika jalanan yang lebih kasar, ada satu benang merah yang muncul. Agak ngeri, tapi masuk akal. Ini bukan soal dia "aneh". Ini tentang seseorang yang sudah muak dengan segala kepalsuan.
Dunia selebriti tempatnya cari makan? Semuanya plastik. Senyum di depan kamera itu settingan, bahkan jalan hidupnya pun pernah diatur oleh rating. Gue menduga, dia pergi ke sana untuk mencari "tamparan". Dia butuh melihat darah asli, debu yang nyata, dan ketakutan yang murni. Mungkin biar dia ingat kalau dirinya masih manusia yang berpijak di tanah, bukan sekadar manekin pajangan di etalase toko mewah.
Soal bertahan hidup, dia sudah lewat fase itu. Ketika perut sudah kenyang dan dompet tebal, musuh terbesar bukan lagi kemiskinan. Tapi kehampaan. Kalau cuma diam di rumah megahnya, dia cuma akan jadi orang kaya yang membosankan, lalu mati perlahan ditelan kenyamanannya sendiri.
Jadi, dia membeli rasa "hidup" itu dengan cara yang ekstrem. Popularitasnya dipakai bukan cuma untuk jualan baju, tapi jadi pengeras suara bagi mereka yang suaranya tak didengar. Ini bukan sekadar jalan-jalan amal. Ini caranya membuktikan pada diri sendiri bahwa hidupnya itu nyata, bukan sekadar skenario sinetron yang diputar ulang.
Kalau mau dikulik lebih dalam pakai teori orang-orang pinter, sebenarnya Zaskia sedang menjalani apa yang disebut Søren Kierkegaard.
Artikel Terkait
Gencatan Senjata Hanya di Atas Kertas, Gaza Kembali Dibombardir
Keluarga Penjambret Tewas Protes Sikap DPR: Kenapa Kami Tak Diwakili?
Ketika Naik Jabatan Tak Lagi Jadi Mimpi: Fenomena Bekerja Tanpa Karir di Indonesia
Dua Pejabat, Satu Semangat: Sigit dan Jokowi Berjuang Habis-Habisan untuk Agenda Masing-Masing