Zaskia Sungkar dan Pencarian Makna di Tengah Reruntuhan

- Senin, 02 Februari 2026 | 06:00 WIB
Zaskia Sungkar dan Pencarian Makna di Tengah Reruntuhan

Di tahap ini, pertanyaannya bukan lagi "Apa yang bikin gue senang?", melainkan "Apa tugas gue?". Dia sadar, kenyamanan estetiknya itu hampa. Dia butuh "Lompatan Keyakinan" ke tempat yang secara logika tak masuk akal, tapi justru mengisi jiwanya.

Lalu, kalau pakai kacamata Friedrich Nietzsche, yang dilakukannya ini adalah penolakan untuk menjadi "The Last Man".

Nietzsche muak dengan tipe manusia itu. Manusia yang hidupnya cari aman dan nyaman, berkedip-kedip puas bilang "kami bahagia", padahal jiwanya menciut. Zaskia menolak menciut. Dia menerapkan "Amor Fati", mencintai takdir termasuk bagian takdir yang paling pahit dan perih. Dia tidak lari dari penderitaan orang lain. Dia merangkulnya, karena di situlah dia merasa menjadi manusia yang "berdaya", bukan sekadar objek tontonan.

Dan yang terakhir, ini seperti validasi dari teori Viktor Frankl tentang Will to Meaning.

Zaskia tahu. Uang banyak tidak memberi makna. Terkenal juga tidak. Tapi melihat senyum bocah di tengah reruntuhan, karena bantuan yang dia bawa? Itu yang memberi makna. Itu yang membuat segala kemewahan di Jakarta tiba-tiba terasa sangat kecil. Penderitaan berhenti menjadi penderitaan, saat kamu menemukan makna di dalamnya.

Jadi, kejanggalan yang kita lihat padanya itu, barangkali, justru bentuk kewarasan tingkat tinggi. Sebuah kewarasan yang sulit dicerna oleh kita yang masih sibuk memikirkan cicilan atau konten viral besok.

(Balqis Humaira)


Halaman:

Komentar