Hong Kong masih berduka. Asap telah sirna, tapi duka dari tragedi kebakaran di Wang Fuk Court, Tai Po, masih menggumpal pekat. Pihak berwenang akhirnya mengungkapkan penyebab sementara bencana mengerikan yang menewaskan 151 jiwa itu. Ternyata, ada kelalaian fatal di balik jaring pengaman yang membungkus gedung-gedung apartemen tersebut.
Jaring itu, yang seharusnya menjadi pelindung selama renovasi, justru berubah jadi bahan bakar yang sempurna. Alih-alih seluruhnya tahan api, kontraktor menggunakan campuran material ada yang tahan api, ada yang tidak. Hasilnya? Api melahap dengan cepat, merambat dari lantai ke lantai di tujuh dari delapan menara yang terbakar.
Sekretaris Utama Eric Chan Kwok Ki tak menyembunyikan kemarahan. Dia menyebut tindakan kontraktor itu "licik".
"Sampel yang tidak memenuhi syarat sengaja ditempatkan di area sulit dijangkau. Spot-spot di mana petugas pemadam harus memanjat keluar untuk memeriksa, jauh dari pengawasan keamanan," ujarnya.
Fakta di lapangan semakin mengerikan. Dari 20 sampel yang diambil pasca-kebakaran, tujuh di antaranya gagal memenuhi standar tahan api. Renovasi besar yang dimulai Juli tahun lalu itu menggunakan scaffolding bambu, yang makin memperparah penyebaran api. Gabungan yang mematikan.
Kebakaran hebat itu sendiri berlangsung lama, hampir dua hari penuh. Butuh 43 jam bagi petugas untuk sepenuhnya memadamkan si jago merah. Kerusakannya luar biasa: lebih dari 1.900 unit hunian hangus. Kompleks yang dihuni sekitar 4.600 orang itu kini jadi puing hitam.
Di sisi lain, proses hukum sudah bergulir. Polisi telah menahan 14 orang, mencakup kontraktor utama, konsultan, hingga subkontraktor yang bertanggung jawab atas perancah bangunan. Mereka menghadapi pertanyaan berat.
Sementara korban terus berjatuhan. Hingga Senin malam, angka kematian resmi mencapai 151 orang, dengan 79 lainnya terluka. Kabar soal penghuni yang hilang pun sempat membingungkan.
Pihak berwenang awalnya menyebut 159 orang dinyatakan hilang, lalu direvisi karena ternyata mereka ditemukan dalam keadaan selamat. Namun, polisi punya data berbeda.
Tsang Shuk Yin, dari unit penyelidikan Kepolisian Hong Kong, menyatakan sekitar 40 orang masih belum ditemukan.
"Angka hilang lebih dari 100 orang itu tidak berdasarkan data valid dan informasi lengkap," tegas Tsang, mencoba meluruskan kebingungan yang ada.
Tragedi ini tercatat sebagai yang terburuk di Hong Kong dalam beberapa dekade terakhir. Sebuah investigasi menyeluruh masih terus dilakukan, bukan hanya untuk menuntaskan daftar korban, tapi juga untuk memastikan kelalaian semacam ini tidak terulang lagi. Kota itu kini belajar pada cara yang paling pahit.
Artikel Terkait
Kapolda Metro Tinjau Langsung Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL di Bekasi, Tiga Tewas
Kereta Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL di Bekasi, Bermula dari Taksi Terjebak di Perlintasan
KAI Minta Maaf Atas Kecelakaan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Evakuasi dan Penanganan Korban Jadi Prioritas
KRL Tertabrak KA Argo Bromo di Bekasi Usai Berhenti Akibat Mobil Mogok di Perlintasan, Sejumlah Penumpang Terluka