“Ini bukan soal membela Iran secara ideologis, melainkan melindungi masa depan ekonomi dan stabilitas kawasan,” tegasnya.
Bayangkan saja. Negara-negara Teluk punya agenda ekonomi raksasa, seperti Visi 2030 Arab Saudi, yang butuh iklim damai dan investasi yang stabil. Perang terbuka? Itu mimpi buruk. Bakal menghancurkan fondasi pembangunan yang sudah mereka susun susah payah.
“Perang terbuka akan merusak iklim investasi yang selama ini menjadi fondasi pembangunan mereka,” ujar Bachtiar.
Dampaknya untuk AS jelas signifikan. Tanpa dukungan logistik dari pangkalan-pangkalan di Saudi dan UEA, rencana militer Washington di kawasan jadi serba sulit. Mereka menghadapi dilema operasional yang berat.
Di sisi lain, perkembangan ini jadi pelajaran berharga bagi Indonesia. Bachtiar berpendapat Indonesia tak boleh cuma jadi penonton pasif.
“Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton. Perubahan peta kekuatan global ini menuntut kepemimpinan dan solidaritas yang lebih nyata dari dunia Islam,” pungkasnya.
Perubahan aliansi dan sikap di Timur Tengah ini memang layak dicermati. Rasanya, era di mana kekuatan luar bisa dengan mudah memainkan negara-negara kawasan sebagai bidak mungkin mulai memudar.
Artikel Terkait
Mobil Terbakar Hebat di Jagorawi, Lalu Lintas Malam Terkunci
Bocah dengan Laptop Pecah Ditemukan Sendirian di Sleman
Dokumen Epstein Ungkap Transaksi Properti Trump dan Kaitan dengan Pengusaha Indonesia
Balong Cigugur Berduka: Ratusan Ikan Keramat Mati Mendadak