Akibatnya, puluhan siswa mengalami luka-luka. Beberapa ada yang cedera cukup serius. Dengan segera, korban dievakuasi menggunakan ambulans dan bahkan bantuan kendaraan warga yang kebetulan lewat. Mereka dibawa ke puskesmas terdekat untuk pertolongan pertama.
Namun begitu, tidak semua bisa ditangani di sana. Beberapa anak yang kondisinya lebih parah harus dirujuk ke RSUD Siak. Mereka membutuhkan penanganan lebih intensif, termasuk pemeriksaan rontgen untuk memastikan ada tidaknya patah tulang.
Pasca insiden, reaksi pihak berwenang cukup cepat. Akses menuju Tangsi Belanda langsung ditutup total untuk sementara waktu. Garis polisi dipasang mengelilingi area, sementara tim gabungan dari kepolisian dan Dinas Kebudayaan mulai turun tangan menyelidiki penyebab pasti keruntuhan.
Penutupan ini bukan tanpa alasan. Tujuannya jelas: audit menyeluruh terhadap struktur bangunan. Mereka tak ingin ada korban jiwa berikutnya di masa depan. Bagaimanapun, Tangsi Belanda selama ini jadi destinasi favorit studi tur pelajar se-Riau. Tempatnya memang sarat cerita, tapi keamanannya kini dipertanyakan.
Di sisi lain, musibah ini menyisakan pertanyaan besar tentang pemeliharaan cagar budaya. Bangunan tua butuh perhatian ekstra, apalagi jika rutin didatangi pengunjung. Eksplorasi sejarah memang penting, tapi keselamatan pengunjung jelas harus jadi prioritas utama.
Artikel Terkait
Prabowo di Persimpangan: Momentum Bangkit atau Cuma Perkuat Dinasti?
Kejar-Kejaran Maut di Serang-Pandeglang, Satu Nyawa Melayang
Papan Tulis vs PowerPoint: Mana yang Lebih Membangun Pemahaman Siswa?
Oegroseno Sindir Era Tito: Polri Rusak Sejak Jokowi Langgar Senioritas?