Smara Bhumi: Tiga Puluh Satu Perupa Rayakan Cinta yang Membumi Lewat Cat Air

- Minggu, 01 Februari 2026 | 06:00 WIB
Smara Bhumi: Tiga Puluh Satu Perupa Rayakan Cinta yang Membumi Lewat Cat Air

Bagi Syiska Diranti Ventia, melukis dengan cat air adalah pengalaman yang adiktif sekaligus menenangkan. Karyanya, 'Whisper in Bloom' (75 x 56 cm), adalah upayanya berbicara lewat warna dan bentuk saat kata-kata tak terucap.

Pameran ini juga diramaikan oleh nama-nama senior. Umi Haksami, mantan Ketua IWS, memamerkan satu karya berjudul 'Light of The Day' (110 x 80 cm). Karya itu seperti berceloteh tentang cahaya di penghujung hari, seolah menyongsong tahun baru 2026 dengan semangat.

Yulian Sodri hadir dengan 'Never Look Away' (76 x 56 cm). Setiap kali melukis lansekap alam, ia merasa seolah sedang berada di dalam lukisannya sendiri sebuah perasaan yang mendatangkan kedamaian.

Menariknya, ada pula partisipan dari dunia lain. Vera Eve Lim, seorang bankir yang bertransformasi jadi pelukis, menampilkan karya 'Unstoppable' (112 x 76 cm). Ia mengaku belajar banyak dari karakter cat air dan mentornya, Agus Budiyanto.

Selain nama-nama yang disebut, masih banyak perupa lain yang terlibat: Chesna Anwar, Niken Vijayanti, Diit Maya Paksi, dan puluhan lainnya. Inilah kekuatan pameran bersama semacam ini. Di satu sisi, kita melihat keberbedaan karakter yang sangat personal dari tiap pelukis. Namun di saat yang sama, mereka justru membangun pesona lewat saling dukung dalam satu kebersamaan.

Smara Bhumi, yang diambil dari filosofi Jawa kuno, diharapkan bisa menjadi gerbang indah untuk menyambut 2026. Sebuah tahun baru untuk berbagi semangat, merayakan kebhinekaan, dan terus membuat seni yang membumi.


Halaman:

Komentar