Balai Budaya Jakarta akan ramai sepanjang pekan pertama Februari 2026. Pasalnya, komunitas Agus Budiyanto Aquarelle Studio (ABAS) menggelar pameran bertajuk "Smara Bhumi". Acara yang rencananya dibuka oleh kolektor Sihaan Farnandes ini menampilkan karya cat air dari tiga puluh satu perupa. Mereka datang dengan beragam tafsir, namun satu semangat yang sama.
Menurut Agus Budiyanto, ketua komunitas ABAS, Smara Bhumi itu sendiri adalah frasa puitis. Ia bicara soal pertemuan beragam ekspresi personal yang akhirnya menyatu dalam kebersamaan yang membumi.
Di sisi lain, pengamat seni Bambang Asrini memberi catatan menarik dalam katalog pameran. Frasa lengkapnya, katanya, sebenarnya Smara Bhumi Adimanggala. "Smara" berarti cinta, sementara "Bhumi" adalah tanah sesuatu yang rendah hati dan membumi. Pertemuan keduanya menciptakan keindahan.
Konsep filosofis itu lalu diterjemahkan ke dalam kanvas dengan cara yang beraneka rupa. Agus Budiyanto sendiri menghadirkan karya berjudul 'Infinity'. Tiga panel kanvas berukuran 110 x 200 cm itu menyatu lewat dialog warna, garis, dan cipratan cat air yang mempesona.
Lain lagi dengan Dumasi Marisina Magdalena Samosir. Baginya, melukis dengan topik Smara Bhumi ibarat memanjatkan doa, sebuah ungkapan syukur. Karyanya yang berjudul 'Riding the Unseen Currents' (56 x 142 cm) mengajak penikmat seni untuk merasakan keheningan dan misteri lautan dalam jiwa seorang pelukis.
Ada juga Erika Enda Ginting dengan lukisan mungil 'Owlish Presence' (38 x 56 cm). Ia mengaku menekankan keseimbangan antara kendali dan ketidakterdugaan dalam teknik cat air.
Artikel Terkait
Interpol Terbitkan Red Notice untuk Buronan Kasus Korupsi Minyak Riza Chalid
Umi Waheeda dan 12.000 Santri yang Menolak Tunduk pada Pungli
Peneliti Prancis Dideportasi Usai Ungkap Data Karhutla yang Berbeda dari Pemerintah
LBH Keadilan Rakyat Soroti Risiko Rp16,9 Triliun untuk Dewan Keamanan Trump