Salah satu titik serangan yang paling parah adalah sebuah kantor polisi. Serangan menghantam gedung itu dan menewaskan tujuh orang. Bassal menyebut, di antara korban terdapat empat petugas polisi wanita.
“Korban tewas termasuk petugas dan personel polisi serta warga sipil yang berada di kantor polisi pada saat itu,” jelas Direktorat Kepolisian Umum Gaza dalam keterangan terpisah.
Kejadian ini terjadi tak lama setelah Israel mengumumkan akan membuka kembali penyeberangan Rafah pada hari Minggu. Penyeberangan antara Gaza dan Mesir itu dibuka untuk pergerakan orang yang terbatas. Entah ada kaitannya atau tidak, situasi justru memanas sebelum pengumuman itu berlaku.
Bukan cuma di kota. Serangan lain juga mengguncang Al-Mawasi, sebuah daerah di Gaza selatan yang dijadikan lokasi pengungsian. Puluhan ribu orang tinggal di sana, bernaung di tenda-tenda darurat yang berjejal. Sebuah kepulan asap hitam besar terlihat membubung di atas pemukiman darurat itu. Sampai berita ini diturunkan, jumlah korban di Al-Mawasi masih belum bisa dipastikan.
Memang, sejak gencatan senjata dimulai pada 10 Oktober, korban jiwa hampir setiap hari berjatuhan. Tapi jumlah korban pada Sabtu ini terasa sangat tinggi. Sebuah hari yang kelam, lagi-lagi, bagi warga Gaza.
Artikel Terkait
Malaikat di Roma yang Mirip PM Meloni Picu Polemik Politik
Utusan AS dan Rusia Gelar Pembicaraan Rahasia di Florida, Bahas Jalan Damai Ukraina
Balita 4 Tahun di Cilacap Tewas Dibunuh dan Dilecehkan oleh Tetangga Sendiri
Drama dan Kebaikan di Balik Sesaknya Gerbong KRL