Asap masih mengepul, sementara petugas penyelamat berteriak-teriak memanggil rekan mereka. Di tengah reruntuhan sebuah gedung di distrik Sheikh Radwan, Gaza, suasana pagi Sabtu (31/1) itu berubah jadi mimpi buruk. Menurut laporan badan pertahanan sipil setempat, serangan udara Israel menewaskan 28 orang. Yang bikin pilu, seperempat dari korban itu adalah anak-anak.
“Dua puluh delapan orang telah ditemukan (tewas), seperempatnya adalah anak-anak, sepertiganya adalah perempuan, dan satu orang tua,” begitu bunyi pernyataan resmi mereka.
Badan itu, yang beroperasi di bawah otoritas Hamas, menambahkan bahwa masih ada orang yang hilang tertimbun. Pencarian terus dilakukan, meski harapannya tipis.
Menurut juru bicara badan pertahanan sipil, Mahmud Bassal, serangan ini menyasar berbagai lokasi. “Apartemen tempat tinggal, tenda, tempat penampungan, dan kantor polisi menjadi sasaran, yang mengakibatkan bencana kemanusiaan ini,” ujarnya.
Di sisi lain, militer Israel punya alasan sendiri. Mereka menyebut serangan ini sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas. Padahal, gencatan senjata yang dimediasi AS sebenarnya sudah memasuki fase kedua awal bulan ini. Tapi nyatanya, kekerasan di wilayah Palestina seperti tak pernah benar-benar reda.
Artikel Terkait
Malaikat di Roma yang Mirip PM Meloni Picu Polemik Politik
Utusan AS dan Rusia Gelar Pembicaraan Rahasia di Florida, Bahas Jalan Damai Ukraina
Balita 4 Tahun di Cilacap Tewas Dibunuh dan Dilecehkan oleh Tetangga Sendiri
Drama dan Kebaikan di Balik Sesaknya Gerbong KRL