Di Balik Panasnya Aspal Skanda, Nurlia Berjuang untuk Sekolah Anak-anaknya

- Sabtu, 31 Januari 2026 | 19:36 WIB
Di Balik Panasnya Aspal Skanda, Nurlia Berjuang untuk Sekolah Anak-anaknya

Matahari terik menyengat aspal Jalan Skanda di Bandung. Di bawah teriknya, Nurlia (41) dengan cekatan mengatur mobil-mobil yang parkir. Sudah dua tahun lebih ia resmi bekerja sebagai penjaga parkir. Semua dilakoninya demi sesuap nasi dan, yang paling utama, biaya sekolah ketiga anaknya.

Sebelumnya, Nurlia bukanlah penjaga parkir. Ia pernah berjualan kopi, minuman dingin, dan gorengan di sekitar lokasi yang sama. Tapi, persaingan di sana terlalu ketat. Usahanya tak kunjung berkembang. Akhirnya, ia memutuskan untuk beralih profesi dan membantu suaminya yang sudah lebih dulu menjaga parkiran.

“Jualan nggak laku karena banyak saingan, akhirnya ikut suami jaga parkir,”

ujar Nurlia, mengisahkan awal mula perjalanannya.

Rutinitasnya padat. Dua belas jam sehari, dari pukul tujuh pagi sampai tujuh malam, ia habiskan di tepi jalan itu. Setelah menyetor kewajiban rutin ke Dinas Perhubungan, penghasilan bersih yang ia bawa pulang sekitar seratus ribu rupiah per hari. Cukupkah?

“Ya dicukup-cukupi aja,”

katanya singkat, menjawab pertanyaan tentang kecukupan penghasilannya untuk kebutuhan sehari-hari.

Tanggungan hidupnya tidak ringan. Bersama suami yang bekerja sebagai driver ojek online, mereka harus menghidupi tiga orang anak. Si sulung masih duduk di bangku SMA, anak kedua kelas empat SD, dan si bungsu baru berusia empat tahun. Biaya sekolah anak pertamanya di sekolah swasta menjadi beban tersendiri.

“Anak sekolah di swasta, jadi kebutuhannya lumayan besar,” tuturnya.

Dilema kerap menghampiri. Terutama saat tiba waktunya membayar ujian atau administrasi sekolah. Jika telat, konsekuensinya langsung dirasakan sang anak.

“Kalau nggak bayar, anak nggak bisa ujian. Kadang harus bayar dulu, baru rapor dikasih,” ujarnya dengan nada datar, meski raut wajahnya menampakkan kelelahan.

Di sisi lain, sebagai perempuan, Nurlia sempat merasa tak percaya diri dengan pekerjaan yang dijalaninya sekarang. Pikiran seperti, "kok cewek "markir"," sempat mengganggunya. Namun, semua itu ia tepis. Baginya, ini adalah ikhtiar, cara untuk tidak menggantungkan hidup pada orang lain.

“Tapi kalau nggak kayak gini, anak mau gimana? Yang penting halal, buat makan dan sekolah anak,”

katanya mantap.

Kini, dengan keikhlasan, ia menjalani hari demi hari. Hujan atau panas terik bukan halangan. Selama kakinya masih kuat berdiri, ia akan terus berada di sana, berjuang. Untuk sesuap nasi hari ini, dan untuk masa depan anak-anaknya esok hari.

“Alhamdulillah, mau ada atau nggak yang parkir, tetap berangkat. Yang penting ada buat makan dan jajan anak,”

pungkas Nurlia, sambil matanya kembali menatap lajur jalan, menanti mobil berikutnya yang akan parkir.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler