Matahari terik menyengat aspal Jalan Skanda di Bandung. Di bawah teriknya, Nurlia (41) dengan cekatan mengatur mobil-mobil yang parkir. Sudah dua tahun lebih ia resmi bekerja sebagai penjaga parkir. Semua dilakoninya demi sesuap nasi dan, yang paling utama, biaya sekolah ketiga anaknya.
Sebelumnya, Nurlia bukanlah penjaga parkir. Ia pernah berjualan kopi, minuman dingin, dan gorengan di sekitar lokasi yang sama. Tapi, persaingan di sana terlalu ketat. Usahanya tak kunjung berkembang. Akhirnya, ia memutuskan untuk beralih profesi dan membantu suaminya yang sudah lebih dulu menjaga parkiran.
“Jualan nggak laku karena banyak saingan, akhirnya ikut suami jaga parkir,”
ujar Nurlia, mengisahkan awal mula perjalanannya.
Rutinitasnya padat. Dua belas jam sehari, dari pukul tujuh pagi sampai tujuh malam, ia habiskan di tepi jalan itu. Setelah menyetor kewajiban rutin ke Dinas Perhubungan, penghasilan bersih yang ia bawa pulang sekitar seratus ribu rupiah per hari. Cukupkah?
“Ya dicukup-cukupi aja,”
katanya singkat, menjawab pertanyaan tentang kecukupan penghasilannya untuk kebutuhan sehari-hari.
Tanggungan hidupnya tidak ringan. Bersama suami yang bekerja sebagai driver ojek online, mereka harus menghidupi tiga orang anak. Si sulung masih duduk di bangku SMA, anak kedua kelas empat SD, dan si bungsu baru berusia empat tahun. Biaya sekolah anak pertamanya di sekolah swasta menjadi beban tersendiri.
“Anak sekolah di swasta, jadi kebutuhannya lumayan besar,” tuturnya.
Artikel Terkait
Prasetyo Bantah Isu Pertemuan Prabowo dengan Oposisi
Restoran Keluarga dan Luka Masa Lalu: Kisah Cinta Kedua di Predestined Love
Malam Haru di Cilandak, Sjafrie Sjamsoeddin Berduka untuk Sahabat Seangkatan
Bercak Darah di Kamar Lula Lahfah Diduga Darah Menstruasi