Dilema kerap menghampiri. Terutama saat tiba waktunya membayar ujian atau administrasi sekolah. Jika telat, konsekuensinya langsung dirasakan sang anak.
“Kalau nggak bayar, anak nggak bisa ujian. Kadang harus bayar dulu, baru rapor dikasih,” ujarnya dengan nada datar, meski raut wajahnya menampakkan kelelahan.
Di sisi lain, sebagai perempuan, Nurlia sempat merasa tak percaya diri dengan pekerjaan yang dijalaninya sekarang. Pikiran seperti, "kok cewek "markir"," sempat mengganggunya. Namun, semua itu ia tepis. Baginya, ini adalah ikhtiar, cara untuk tidak menggantungkan hidup pada orang lain.
“Tapi kalau nggak kayak gini, anak mau gimana? Yang penting halal, buat makan dan sekolah anak,”
katanya mantap.
Kini, dengan keikhlasan, ia menjalani hari demi hari. Hujan atau panas terik bukan halangan. Selama kakinya masih kuat berdiri, ia akan terus berada di sana, berjuang. Untuk sesuap nasi hari ini, dan untuk masa depan anak-anaknya esok hari.
“Alhamdulillah, mau ada atau nggak yang parkir, tetap berangkat. Yang penting ada buat makan dan jajan anak,”
pungkas Nurlia, sambil matanya kembali menatap lajur jalan, menanti mobil berikutnya yang akan parkir.
Artikel Terkait
Prasetyo Bantah Isu Pertemuan Prabowo dengan Oposisi
Restoran Keluarga dan Luka Masa Lalu: Kisah Cinta Kedua di Predestined Love
Malam Haru di Cilandak, Sjafrie Sjamsoeddin Berduka untuk Sahabat Seangkatan
Bercak Darah di Kamar Lula Lahfah Diduga Darah Menstruasi