Distraksi: Senyuman Licin yang Menggerogoti Fokus Anak Muda

- Sabtu, 31 Januari 2026 | 16:50 WIB
Distraksi: Senyuman Licin yang Menggerogoti Fokus Anak Muda

Fokus Itu Keputusan, Bukan Mood

Banyak orang keliru menunggu mood fokus itu datang. Padahal, fokus adalah hasil dari sebuah keputusan. Keputusan untuk nutup tab yang nggak perlu. Keputusan untuk matiin notifikasi. Keputusan untuk duduk dan mulai, meski rasanya berat. Fokus jarang datang sebelum kita mulai. Dia biasanya muncul setelah kita bertahan beberapa menit dalam ketidaknyamanan itu.

Multitasking? Jangan bangga dulu. Seringnya, yang terjadi cuma pekerjaan setengah-setengah. Otak kita nggak bisa bekerja paralel; dia cuma bisa pindah-pindah dengan cepat dan itu sangat melelahkan. Hasilnya bukan lebih cepat, tapi lebih dangkal kualitasnya. Pelajaran penting buat anak muda: fokus itu lebih bernilai daripada sekadar sibuk.

Dan ingat, menunda cuma membuat masalah terasa makin besar. Semakin lama ditunda, semakin menggunung bayangannya di pikiran. Tugas sederhana berubah jadi beban mental. Padahal, seringkali masalah itu mengecil dengan sendirinya begitu kita mulai mengerjakannya. Bukan karena masalahnya berubah, tapi karena kita berhenti membesar-besarkannya.

Batas adalah Kunci

Mengelola distraksi bukan berarti anti-teknologi. Ini soal menetapkan batas. Batas antara kerja dan hiburan. Batas antara fokus dan respons. Batas antara kebutuhan orang lain dan kapasitas diri sendiri. Kalau nggak ada batas, waktu kita akan selalu diambil oleh hal yang paling berisik, bukan yang paling penting.

Omong-omong, fokus nggak harus berjam-jam. Banyak yang merasa gagal karena nggak bisa duduk diam berlama-lama. Padahal, fokus yang utuh selama 20 menit seringkali lebih berharga daripada dua jam kerja yang terus-terusan terganggu. Manajemen waktu di era sekarang ini adalah seni untuk hadir sepenuhnya, meski cuma sebentar.

Pada akhirnya, melatih fokus adalah sebuah proses. Dia bukan bakat bawaan, tapi kebiasaan. Dilatih dengan memulai dari hal kecil. Menyelesaikan satu tugas dulu. Mengurangi gangguan satu per satu. Nggak instan, nggak dramatis, tapi efektif.

Distraksi dan godaan menunda akan selalu ada. Yang membedakan arah hidup kita bukanlah ketiadaan gangguan, tapi kemampuan untuk kembali ke fokus setiap kali kita tersandung.

Anak muda nggak perlu hidup dalam disiplin kaku yang menyiksa. Cukup dengan punya kesadaran untuk sesekali bertanya pada diri sendiri: “Apa yang sedang saya lakukan sekarang, dan apakah ini mendekatkan saya pada hidup yang saya inginkan?”

Fokus, pada hakikatnya, bukan tentang menutup diri dari dunia. Ini tentang memilih dengan sadar: apa sih yang benar-benar layak mendapatkan waktu berharga kita?

(bersambung ke seri 3)


Halaman:

Komentar