Washington DC Nama Joe Kent belakangan ini ramai diperbincangkan. Bukan tanpa sebab. Sosok mantan perwira pasukan khusus (Green Beret) ini, yang dulu jadi ujung tombak kontraterorisme di era Trump, kini tampil sebagai salah satu suara paling lantang di kancah politik sayap kanan.
Namun begitu, latar belakangnya jauh dari sekadar politisi biasa. Ia seorang veteran perang dengan rekam jejak tempur yang panjang. Pengalamannya di lapangan, ditambah dengan tragedi personal yang dialaminya, membentuk sudut pandangnya yang kini banyak disorot.
Istri Kent, Shannon, seorang ahli kriptologi Angkatan Laut, gugur dalam tugas di Suriah. Kejadian itu, menurut sejumlah saksi, menjadi titik balik yang mendalam. Ia mulai mempertanyakan secara serius apa yang sering disebut sebagai "perang abadi" atau forever wars yang melibatkan Amerika.
Di sisi lain, meski mendukung visi "America First" ala Trump, rupanya ada gesekan di dalam. Dinamika birokrasi dan perbedaan pandangan soal strategi penarikan pasukan AS dari berbagai zona konflik akhirnya mendorongnya untuk mundur dari posisi penasihat kontraterorisme. Keputusannya itu bukan langkah spontan. Ia merasa perubahan kebijakan yang lebih mendasar harus diperjuangkan dari dalam sistem legislatif, bukan dari pinggiran kekuasaan eksekutif.
Artikel Terkait
Jasa Marga Proyeksikan 3,5 Juta Kendaraan Mudik Keluar Jakarta, Sistem Satu Arah Diterapkan
Petugas Pengadilan Negeri Jakpus Main Game Saat Jam Kerja, Pihak Pengadilan Lakukan Penelusuran
Tiket Mudik Lebaran KAI Terjual 3,48 Juta, Masih Tersisa 1 Juta Kursi
Arus Mudik Lebaran di Stasiun Jakarta Capai 52 Ribu Penumpang per Hari