Klaim dari Washington dan Tel Aviv terdengar penuh keyakinan: serangan udara gabungan mereka dikatakan telah melumpuhkan kemampuan militer Iran secara signifikan.
Lewat unggahan di Truth Social, Presiden AS Donald Trump bahkan terlihat sangat percaya diri. "Pertahanan udara, angkatan udara, angkatan laut, dan kepemimpinan mereka sudah hancur," tulisnya pada Selasa lalu. "Mereka ingin bicara. Saya bilang, 'Terlambat!'"
Namun begitu, Teheran sama sekali tidak tinggal diam. Mereka membalas dengan melancarkan serangan ke Israel dan sejumlah negara Timur Tengah yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS. Alasannya jelas: membela diri.
Di sisi lain, dengan keunggulan militer yang jelas di pihak AS dan Israel, muncul pertanyaan besar. Pilihan strategis apa yang masih tersisa bagi Iran? Dan seperti apa sebenarnya strategi yang sedang mereka jalankan di tengah tekanan ini?
Strategi Menguras Lawan
Menurut Dr. H. A. Hellyer, seorang pakar keamanan Timur Tengah dari RUSI di Inggris, pendekatan Iran saat ini bukan untuk menang dalam perang konvensional. Itu mustahil. Fokus mereka justru membuat konflik ini berlarut-larut, menyebar secara regional, dan mahal secara ekonomi.
"Iran tidak bisa menang secara konvensional," ujarnya. "Tapi strateginya adalah memastikan kemenangan pihak lain tetap mahal dan tidak pasti."
Pendapat serupa datang dari Nicole Grajewski, asisten profesor di Sciences Po, Prancis. Ia menggambarkan taktik Iran sebagai "perang atrisi". Intinya sederhana: melemahkan musuh dengan menguras sumber dayanya secara terus-menerus, sampai kemampuan bertempur mereka luntur.
Ada dimensi psikologis yang juga main peran. Grajewski mencontohkan Perang 12 Hari melawan Israel tahun lalu. "Iran lebih banyak mengarahkan serangan ke wilayah sipil," katanya. "Ketepatan bukan hal utama. Tujuannya menanamkan rasa takut dan trauma di tengah masyarakat."
Rudal dan drone memang jadi tulang punggung doktrin pertahanan Iran. Mereka diyakini punya persenjataan rudal balistik terlengkap di kawasan. Meski persediaannya terdampak selama perang sebelumnya, jumlah pastinya tetap misterius. "Ada penyimpanan bawah tanah dan upaya reproduksi yang terus berlangsung," jelas Grajewski.
Israel sendiri memperkirakan Iran punya sekitar 2.500 rudal, campuran jarak pendek dan menengah. Pejabat Iran bahkan menyebut telah menggunakan rudal seperti Sejjil yang jangkauannya mencapai 2.000 km, serta Fattah yang diklaim sebagai rudal hipersonik.
Misteri 'Kota-Kota Rudal' dan Ancaman di Selat
Fasilitas penyimpanan bawah tanah itu kerap dijuluki "kota rudal" oleh media Iran. Tapi ukuran dan isinya sulit diverifikasi. Yang jelas, laporan dari komandan AS, Jenderal Dan Caine, menyebut peluncuran rudal balistik Iran telah anjlok 86% sejak hari pertama pertempuran.
Tapi jangan salah. Dr. Hellyer menilai Iran masih punya gigi yang cukup tajam. Kapasitas serangannya masih signifikan untuk menargetkan infrastruktur Israel, pangkalan AS di regional, dan sekutu Teluk. Belum lagi ancaman mereka terhadap arus energi global lewat Selat Hormuz.
"Bahkan gangguan terbatas di selat itu bisa berdampak ekonomi global yang parah," tegasnya.
Sekitar 20% minyak dunia melewati selat sempit itu, yang kini efektif ditutup oleh Iran dengan ancaman akan menyerang kapal mana pun yang mencoba melintas.
Meski mungkin kekurangan rudal canggih, kapasitas drone Iran masih sangat diperhitungkan. Mereka diperkirakan telah memproduksi puluhan ribu drone serang satu arah Shahed sebelum perang. Drone ini punya tujuan strategis ganda: selain merusak, juga mengikis sistem pertahanan udara lawan dengan memaksa mereka menghabiskan rudal pencegat yang mahal.
"Sebagian dari strategi ini adalah menguras kemampuan pencegat," papar Grajewski. "Iran melakukan hal ini dengan UAV dan drone. Itu juga yang dilakukan Rusia di Ukraina."
Data dari Institut Studi Keamanan Nasional (INSS) di Tel Aviv mencatat, AS dan Israel telah melakukan lebih dari 2.000 serangan multi-munisi. Sementara Iran meluncurkan 571 rudal dan 1.391 drone banyak di antaranya berhasil dicegat. Mempertahankan tempo seperti ini, kata para pakar, akan makin berat bagi kedua belah pihak.
Ketahanan dan Kelelahan di Dalam
Dari sisi jumlah personel, Iran punya angkatan bersenjata yang besar. Laporan IISS Military Balance 2025 menyebut ada sekitar 610.000 personel aktif. Itu termasuk 350.000 prajurit angkatan darat reguler dan 190.000 anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang menangani program rudal dan operasi regional.
Mereka juga punya jaringan sekutu dari Houthi di Yaman, kelompok di Irak, Hizbullah, hingga Hamas. Tapi poros perlawanan ini sudah mendapat pukulan berat dalam beberapa bulan terakhir.
Pengalaman Iran dalam konflik berkepanjangan, sejak era Perang Iran-Irak, membentuk ketahanannya. Namun, daya tahan strategis mereka sekarang sangat bergantung pada kohesi internal.
"Semua bergantung pada apakah elite keamanan dan politik tetap bersatu atau justru terpecah," kata Grajewski. "Jika terjadi perpecahan, strategi militer bisa semakin kacau."
Ia menambahkan, ada tanda-tanda kelelahan yang nyata. Operator rudal tampak di bawah tekanan berat, yang berujung pada tembakan yang meleset atau tidak akurat. "Banyak operasi yang lebih tidak terorganisir, dengan tingkat kelelahan yang tinggi."
Kondisi seperti ini, ditambah serangan terus-menerus terhadap pasokan dan pasukan rudal, bisa memicu sesuatu yang berbahaya: eskalasi yang tidak disengaja.
Taruhan yang Berisiko
Grajewski menyoroti insiden di mana Turki lewat pertahanan udara NATO menghancurkan sebuah rudal balistik Iran yang menuju wilayah udaranya. Ankara pun memperingatkan semua pihak untuk menahan diri dari tindakan yang memicu eskalasi lebih lanjut.
Tapi tampaknya, Iran sedang berjudi. Tujuan luas mereka, menurut Grajewski, adalah menciptakan kondisi yang "begitu tak tertahankan" bagi negara-negara tetangga, sehingga mereka terdorong untuk menekan AS mencari penyelesaian negosiasi.
"Sejauh ini, saya belum tahu apakah itu akan berhasil, tetapi tampaknya itulah taruhan Iran saat ini," tambahnya.
Taruhan itu bisa berbalik arah. Hellyer memberikan skenario lain. Negara-negara Teluk, yang awalnya mungkin menentang perang, bisa berubah pikiran jika merasa keamanan mereka sendiri terancam oleh serangan balasan Iran. Mereka mungkin justru akan mendukung aksi AS untuk mengakhiri ancaman langsung dari Iran.
"Saya tidak berpikir negara-negara Teluk sudah sampai pada titik itu," ujarnya. "Tetapi saya rasa waktunya semakin menipis."
Perang ini, pada akhirnya, adalah ujian ketahanan dan perhitungan strategis yang rumit. Setiap pihak memainkan kartunya, dengan risiko eskalasi yang selalu mengintai di setiap sudut.
Artikel Terkait
Polisi Gagalkan Penyelundupan 1,9 Ton Sianida dari Filipina di Gorontalo Utara
Peringati Hari Transportasi Nasional, Seluruh Moda Transportasi Umum di Jakarta Gratis
Hotel Borobudur Jakarta Luncurkan Program Rempah dan Budaya Ternate-Tidore Sambut Hari Bumi dan Waisak 2026
Polri Musnahkan Barang Bukti Narkoba Senilai Rp149 Miliar, Selamatkan 333.280 Jiwa