Nvidia akhirnya kembali menggeliat. Setelah sempat terhenti akibat aturan yang makin ketat, produksi chip H200 mereka untuk pasar China kini berjalan lagi. Hal ini terjadi setelah perusahaan mendapatkan lampu hijau atau lebih tepatnya, lisensi ekspor dari pemerintah Amerika Serikat.
Menurut sejumlah saksi, pesanan pun mulai berdatangan. Tak butuh waktu lama, beberapa minggu lalu, lini produksi kembali berdenyut.
“Rantai pasokan kami mulai beroperasi kembali,”
kata CEO Nvidia, Jensen Huang, dalam sebuah konferensi pers seperti dilaporkan Reuters, Rabu (18/3/2026). Suaranya terdengar lega.
Namun begitu, perlu diakui bahwa H200 ini bukanlah yang terhebat di katalog Nvidia. Kemampuannya jauh di bawah dua raksasa mereka: Blackwell dan Rubin. Dua chip andalan itu lah yang punya tenaga untuk membangun model bahasa besar, fondasi dari chatbot canggih semacam ChatGPT.
Kalau Blackwell sudah bisa dipesan, Rubin masih dalam tahap pengembangan sebagai prosesor generasi berikutnya.
Di sisi lain, ambisi Huang jelas terlihat. Baru-baru ini, dia bahkan menyasar angka fantastis: pendapatan hingga satu triliun dolar AS dari penjualan Blackwell dan Rubin pada 2027 nanti. Target yang sangat besar, tentu saja.
Sementara itu, H200 dengan spesifikasi yang disesuaikan aturan AS, tetap punya ceritanya sendiri. Ia hadir bukan sebagai primadona, melainkan sebagai solusi di tengah ketegangan geopolitik yang rumit.
Artikel Terkait
Menaker Terbitkan Aturan Baru, Hanya Enam Bidang Pekerjaan yang Boleh Gunakan Sistem Outsourcing
Kementerian Perdagangan Siap Sesuaikan HET Minyakita, Harga di Pasaran Tembus Rp19.000 per Liter
Penataan Jalan HR Rasuna Said Dikebut, Ditargetkan Rampung Sebelum HUT Jakarta 2026
Konflik Timur Tengah Ancam Investasi Raksasa AI Senilai Rp10.800 Triliun