Oleh Aendra Medita
“Being busy is a form of laziness lazy thinking and indiscriminate action.” Begitulah kata Tim Ferriss. Intinya, kesibukan yang tanpa arah sering cuma jadi kedok untuk kemalasan berpikir.
Kita tahu siapa Tim Ferriss, kan? Penulis buku laris, pengusaha, sekaligus podcaster ternama itu sering bicara soal produktivitas. Tapi kali ini, mari kita bahas soal musuh produktivitas itu sendiri: distraksi.
Distraksi itu cuma pengalih perhatian, siasat untuk lari dari kenyataan yang harus kita hadapi. Yang menarik, gangguan ini nggak pernah datang terang-terangan. Nggak ada tuh anak muda yang bangun tidur terus berniat, “Aduh, hari ini saya pengen buang-buang waktu aja.”
Yang terjadi jauh lebih halus. Cuma buka ponsel “sebentar”. Cek satu notifikasi. Lalu, tanpa terasa, kita sudah terjebak scroll selama setengah jam. Distraksi datang dengan senyuman, bukan dengan niat jahat. Justru karena itulah dia berbahaya.
Menunda Bukan Karena Malas
Ini kesalahpahaman yang umum. Menunda sering dikira sebagai kemalasan. Padahal, banyak penunda sebenarnya adalah orang yang terlalu peduli. Mereka kebanyakan mikir. Mahasiswa yang menunda skripsi? Bukan karena malas, tapi takut hasilnya jelek. Anak muda yang menunda mulai usaha? Bukan karena nggak mau maju, tapi takut gagal. Intinya, penundaan sering cuma reaksi terhadap tekanan, bukan tanda niat yang kurang.
Di sisi lain, otak kita sebenarnya nggak dirancang untuk terus-terusan diganggu. Coba bayangkan. Setiap bunyi “ding!” dari notifikasi, setiap tab baru yang dibuka, itu memecah konsentrasi. Otak kita dipaksa pindah konteks terus-menerus.
Akibatnya bisa ditebak. Fokus jadi rapuh. Pekerjaan sederhana pun terasa berat banget. Makanya nggak heran banyak yang merasa capek padahal kerjaannya belum seberapa. Bukan tugasnya yang berat, tapi fokusnya yang sudah tercabik-cabik dari tadi.
Bruce Lee pernah bilang sesuatu yang relevan di sini. “It is not daily increase but daily decrease. Hack away at the unessential.” Artinya, kunci kemajuan justru terletak pada menyederhanakan hal-hal yang nggak penting.
Jebakan “Nanti Saja” dan Media Sosial
Ungkapan “nanti saja” itu licin. Kedengarannya ringan, bukan keputusan besar. Tapi hidup kita justru sering dibentuk oleh tumpukan “nanti” yang kecil-kecil itu. Tugas yang ditunda, keputusan yang dihindari, langkah yang nggak jadi diambil. Dampaknya jarang terasa sekarang, tapi hampir selalu terasa menyakitkan di kemudian hari.
Nah, media sosial memperparah keadaan. Platform itu bikin kita sibuk membandingkan diri. Melihat orang lain seolah lebih maju, lebih bahagia. Alih-alih termotivasi, yang ada malah kita kehilangan arah. Energi habis untuk mengintip hidup orang, bukan membangun hidup sendiri. Akhirnya, tanpa sadar, kita merawat rasa tertinggal, bukan memperbaiki posisi.
Artikel Terkait
Di Balik Panasnya Aspal Skanda, Nurlia Berjuang untuk Sekolah Anak-anaknya
Sumbar Pimpin Progres Huntara, Aceh Masih Tertinggal
Jenazah Wagub Sulbar Tiba di Jakarta, Akan Dimakamkan di Kalibata
Rakornas 2026: Titik Temu Pusat dan Daerah untuk Pacu Indonesia Emas 2045