Suasana di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1) pagi itu terasa istimewa. Ribuan orang memadati arena untuk menyaksikan perayaan puncak Harlah ke-100 Nahdlatul Ulama. Tema besar "Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia" terpampang megah, mengingatkan semua pada perjalanan panjang organisasi ini.
Sejak pukul setengah sepuluh pagi, bangku VIP sudah mulai diisi para tokoh. Di barisan depan, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf tampak duduk berdampingan dengan Menteri Agama Nasaruddin Umar. Tak jauh dari mereka, Menko PMK Pratikno juga telah hadir, mewakili pemerintah.
Kehadiran keluarga mantan Presiden Abdurrahman Wahid pun menyita perhatian. Ibu Sinta Nuriyah Wahid datang didampingi putrinya, Yenny Wahid. Mereka duduk tenang, sesekali menyapa tamu yang lewat.
Di sisi lain, panggung politik nasional juga terwakili. Ahmad Muzani dari MPR dan Sultan Bahtiar Najamuddin dari DPD hadir. Lalu, ada juga sejumlah pimpinan partai. Muhamad Mardiono (PPP), Al Muzzammil Yusuf (PKS), dan Sarmuji dari Golkar terlihat hadir dalam kesempatan bersejarah ini.
Namun begitu, nuansa yang paling kental justru datang dari para kader akar rumput. Mereka, para nahdliyin, memenuhi tribun dengan ciri khasnya. Para pria dengan baju putih dan sarung, sementara wanita dengan gamis putih serupa. Mereka datang dari mana-mana; pengurus wilayah, cabang, hingga berbagai badan otonom NU. Mereka adalah tulang punggung perayaan ini.
Meski begitu, ada beberapa nama yang belum terlihat hingga acara dimulai. Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan Sekjen PBNU Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul, misalnya. Kehadiran mereka masih dinantikan.
Acara pun resmi dibuka. Gemuruh lagu Indonesia Raya menggema di Istora, diikuti dengan lantunan Yalal Wathon yang syahdu. Suara ribuan orang menyatu, menandai dimulainya sebuah hari yang bersejarah.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu