Namun begitu, nuansa yang paling kental justru datang dari para kader akar rumput. Mereka, para nahdliyin, memenuhi tribun dengan ciri khasnya. Para pria dengan baju putih dan sarung, sementara wanita dengan gamis putih serupa. Mereka datang dari mana-mana; pengurus wilayah, cabang, hingga berbagai badan otonom NU. Mereka adalah tulang punggung perayaan ini.
Meski begitu, ada beberapa nama yang belum terlihat hingga acara dimulai. Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan Sekjen PBNU Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul, misalnya. Kehadiran mereka masih dinantikan.
Acara pun resmi dibuka. Gemuruh lagu Indonesia Raya menggema di Istora, diikuti dengan lantunan Yalal Wathon yang syahdu. Suara ribuan orang menyatu, menandai dimulainya sebuah hari yang bersejarah.
Artikel Terkait
Sporting CP Balas Kekalahan 0-3 dengan Kemenangan Telak 5-0 ke Perempat Final Liga Champions
Fenerbahce Hajar Gaziantep 4-1, Kokohkan Posisi Puncak Klasemen
Jadwal Imsak Jogja Hari Ini Pukul 04.18 WIB, Disusul Azan Subuh 10 Menit Kemudian
Chelsea Terancam Tersingkir, Wajib Menang Besar atas PSG di Liga Champions