Namun begitu, nuansa yang paling kental justru datang dari para kader akar rumput. Mereka, para nahdliyin, memenuhi tribun dengan ciri khasnya. Para pria dengan baju putih dan sarung, sementara wanita dengan gamis putih serupa. Mereka datang dari mana-mana; pengurus wilayah, cabang, hingga berbagai badan otonom NU. Mereka adalah tulang punggung perayaan ini.
Meski begitu, ada beberapa nama yang belum terlihat hingga acara dimulai. Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan Sekjen PBNU Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul, misalnya. Kehadiran mereka masih dinantikan.
Acara pun resmi dibuka. Gemuruh lagu Indonesia Raya menggema di Istora, diikuti dengan lantunan Yalal Wathon yang syahdu. Suara ribuan orang menyatu, menandai dimulainya sebuah hari yang bersejarah.
Artikel Terkait
Bumi Memanas Lebih Cepat, KLHK Buru-buru Tinjau Ulang Tata Ruang
Kematian di Tangan ICE: Krisis Kepercayaan dan Gelombang Protes yang Mengguncang Amerika
John Sitorus Sindir Siti Nurbaya Usai Rumahnya Digeledah: Gabung Saja ke PSI
Brian Yuliarto Buka Kartu: Kampus dan Industri Harus Jalin Kolaborasi Nyata untuk Pacu Ekonomi