Pendaftaran beasiswa LPDP 2026 sudah dimulai. Seperti biasa, momen ini selalu membawa suasana yang sama ke linimasa media sosial. Ruang publik kembali ramai dengan ekspresi yang nyaris seragam tiap tahunnya.
Antusiasme dan optimisme bertebaran, tentu saja. Harapan besar digantungkan pada satu proses seleksi. Tapi, coba perhatikan lebih dalam. Ada kegelisahan lain yang jarang diungkap dengan lantang: rasa takut gagal, atau bayang-bayang kegagalan yang pernah dialami sebelumnya.
Fenomena ini sebenarnya wajar. Setiap ada seleksi besar entah untuk beasiswa, lowongan kerja, atau promosi jabatan emosi kolektif yang sama selalu muncul. Yang disayangkan, kegagalan masih sering dianggap sebagai kekalahan pribadi yang memalukan. Jarang yang melihatnya sebagai bagian tak terpisahkan dari mekanisme seleksi itu sendiri.
Memaknai Ulang Arti "Gagal"
Dalam obrolan sehari-hari, gagal sering disamakan dengan "tidak mampu". Padahal, dalam praktik seleksi modern baik di dunia pendidikan maupun kerja keputusan akhir jarang sekali cuma soal pintar atau berprestasi. Banyak faktor lain yang bermain bersamaan. Kesiapan diri, kejelasan tujuan, dan konteks waktu saat seleksi berlangsung punya peran besar.
Logika di baliknya sebenarnya sederhana: seleksi mencari jawaban untuk "Siapa yang paling cocok saat ini?" Bukan "Siapa yang paling hebat secara mutlak?" Sayangnya, narasi publik seringkali kaku dan tak memberi ruang untuk pemahaman semacam ini.
Soal Kecocokan dan Momentum
Dari kacamata manajemen SDM, inti seleksi adalah mencari kecocokan atau fit. Yakni keselarasan antara individu, kebutuhan institusi, dan fase yang sedang dijalani organisasi. Makanya, tak jarang orang dengan kapasitas tinggi justru tidak lolos. Sementara kandidat lain, yang mungkin tampak biasa, malah berkembang pesat karena ditempatkan di konteks yang tepat.
Prinsip serupa berlaku untuk seleksi beasiswa. Gagal nggak selalu berarti kualitasmu rendah. Bisa jadi itu cuma penanda bahwa arah, kesiapan, atau waktumu belum sepenuhnya selaras. Faktor waktu ini sering banget diabaikan, padahal justru di situlah kunci banyak keputusan.
Cerita Pengalaman Pribadi
Semua teori ini jadi lebih nyata kalau dilihat dari pengalaman langsung. Saya sendiri pernah gagal beberapa kali di seleksi beasiswa lain, jauh sebelum akhirnya mendaftar LPDP.
Artikel Terkait
John Sitorus Sindir Siti Nurbaya Usai Rumahnya Digeledah: Gabung Saja ke PSI
Brian Yuliarto Buka Kartu: Kampus dan Industri Harus Jalin Kolaborasi Nyata untuk Pacu Ekonomi
Tere Liye Bongkar Tipu-Tipu Bekerja Keras untuk Keluarga, Ternyata yang Nikmati Hasilnya Cuma Mereka yang di Atas
Aktivis Muhammadiyah Serukan Prabowo Ganti Kapolri, Sebut Pernyataan Sampai Titik Darah Penghabisan Provokatif