Bukan kegagalan yang dramatis, sih. Tapi lebih ke jeda ruang untuk mengecek ulang tujuan dan mempertanyakan kesiapan diri sendiri.
Pengalaman itu yang akhirnya membuat saya paham. Kegagalan seringkali bukan soal "tidak mampu", tapi soal "belum tepat". Bukan di jalurnya, atau mungkin belum di momen yang pas.
Perubahan Sikap Menghadapi LPDP
Ketika waktunya mendaftar LPDP tiba, pendekatan saya sudah berbeda. Fokusnya nggak cuma sekadar pengen lolos. Tapi juga memahami konsekuensi dari pilihan itu: arah studi seperti apa, komitmen jangka panjang, dan dampaknya nanti setelah selesai. Proses seleksinya pun terasa lain lebih seperti ruang klarifikasi diri ketimbang arena pembuktian semata.
Hasil positif yang datang kemudian nggak terasa seperti kemenangan instan. Rasanya lebih seperti pertemuan yang pas antara kesiapan dan waktu yang akhirnya sejalan.
Jeda itu Bukan Musuh
Dalam seleksi apa pun beasiswa, pekerjaan, promosi banyak orang sebenarnya nggak kalah. Mereka cuma tiba di waktu yang berbeda. Dan jujur, yang paling melelahkan seringkali bukan proses seleksinya, tapi upaya kita untuk menerima bahwa jeda adalah bagian sah dari perjalanan.
Budaya kita yang mengagungkan kecepatan bikin jeda terasa seperti kemunduran. Padahal, dalam banyak kasus, fase jeda justru jadi periode pembentukan yang nggak kelihatan.
Penutup: Bukan Penolakan, Tapi Penyelarasan
Jadi, ketika LPDP dibuka lagi dan kecemasan mulai muncul, ingatlah satu hal: tidak semua penundaan adalah penolakan. Sebagian justru berfungsi sebagai mekanisme penyelarasan agar seseorang tiba di jalur yang lebih masuk akal, pada waktu yang lebih tepat.
Di dunia yang serba cepat kayak sekarang, memahami hal ini mungkin nggak bikin proses seleksi jadi gampang. Tapi setidaknya, ia bisa memberi jarak yang sehat. Jarak antara hasil seleksi dan harga diri kita.
Artikel Terkait
John Sitorus Sindir Siti Nurbaya Usai Rumahnya Digeledah: Gabung Saja ke PSI
Brian Yuliarto Buka Kartu: Kampus dan Industri Harus Jalin Kolaborasi Nyata untuk Pacu Ekonomi
Tere Liye Bongkar Tipu-Tipu Bekerja Keras untuk Keluarga, Ternyata yang Nikmati Hasilnya Cuma Mereka yang di Atas
Aktivis Muhammadiyah Serukan Prabowo Ganti Kapolri, Sebut Pernyataan Sampai Titik Darah Penghabisan Provokatif