Tanggal 31 Januari selalu punya cerita. Di hari yang sama, sejarah mencatat peristiwa yang dampaknya terasa hingga kini, dari tanah air hingga belahan dunia lain.
Di Surabaya, tahun 1926, tepatnya 16 Rajab 1344 Hijriah, sejumlah kiai dan ulama pesantren berkumpul. Mereka punya kegelisahan yang sama. Arus pembaruan pemikiran Islam saat itu dinilai mulai menggerus tradisi keilmuan yang sudah mengakar. Di sisi lain, suara ulama tradisional kerap tak terdengar dalam forum-forum besar.
Dari situasi itulah, lahirlah Nahdlatul Ulama. Organisasi yang berarti Kebangkitan Ulama ini dibentuk sebagai wadah yang lebih solid. Tujuannya jelas: merespons zaman tanpa harus meninggalkan khazanah keilmuan ulama terdahulu. KH Hasyim Asy’ari pun ditetapkan sebagai Rais Akbar pertama.
Namun begitu, tanggal yang sama juga menyimpan kisah pilu dari daratan Eropa.
Cuaca buruk melanda Laut Utara pada 31 Januari 1953. Angin kencang dan gelombang badai menggempur pertahanan laut Belanda hingga jebol. Air laut pun menerjang daratan dengan kekuatan dahsyat.
Korban jiwa berjatuhan. Lebih dari 1.800 orang di Belanda meninggal dunia. Bencana itu juga merenggut nyawa di Inggris, Skotlandia, dan Belgia. Kerugian materinya? Mencapai ratusan juta euro. Sebuah tragedi yang mengubah cara Belanda mengelola pertahanan pantainya selamanya.
Artikel Terkait
Polisi Ringkus Komplotan Pencuri Motor yang Beraksi Puluhan Kali di Makassar dan Gowa
Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan
Real Madrid Hancurkan Manchester City, Vinícius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral