Pintu yang lama terkunci, akhirnya terbuka juga. Pemerintah China, setelah bertahun-tahun bersikap keras, kini mengizinkan masuknya chip AI canggih buatan Nvidia dari Amerika Serikat. Ini bukan sekadar izin impor biasa, melainkan sebuah sinyal penting dalam ketegangan teknologi dua negara adidaya itu.
Perubahan sikap Beijing ini cukup mengejutkan. Bayangkan, persaingan mereka dengan AS soal penguasaan teknologi global sedang panas-panasnya. AS sendiri, sejak era Biden hingga berlanjut di masa Trump, getol membatasi ekspor chip mutakhir dan peralatan pembuat semikonduktor ke China. Tekanan itu begitu kuat.
Sebagai respons, China punya mimpi besar: swasembada. Mereka mendorong perusahaan lokal untuk lepas dari ketergantungan pada produk AS dan beralih ke buatan dalam negeri. Sayangnya, imbauan itu tak semudah teori. Industri AI di sana tumbuh pesat, dan kebutuhan akan chip berperforma tinggi ternyata tak bisa ditawar-tawar. Ambisi mandiri harus berhadapan dengan realitas yang mendesak.
Nah, titik beloknya muncul ketika Presiden Donald Trump memutuskan untuk melonggarkan keran ekspor. Chip Nvidia H200 boleh masuk ke China, tapi dengan catatan: ada tarif tambahan 25% per unitnya. Kebijakan yang awalnya disambut dengan kecurigaan itu, rupanya kini dilihat Beijing dengan kacamata yang lebih pragmatis.
Menurut laporan Reuters, otoritas China telah memberi lampu hijau untuk impor perdana chip H200 itu. Persetujuan yang tercatat pada Rabu, 28 Januari 2026, ini jelas sebuah kompromi. Mereka mencoba menyeimbangkan antara cita-cita mandiri teknologi dengan desakan kebutuhan industri yang nyata.
Artikel Terkait
Kapolda DIY Buka Suara soal Penonaktifan Kapolresta Sleman
Modus Uang Palsu di Balik Receh, Gerai Pulsa Tembung Dua Kali Jadi Korban
Janji Cerah Menkeu Baru, Defisit APBN Tetap Merah di Angka Rp638,8 Triliun
Tetangga Tua Dibegal dan Dibakar, Motifnya Cuma Butuh Uang ke Jakarta