Di Balik Sorak-Sorai Akhir Tahun: Saatnya Menyepi dan Merapikan Batin

- Jumat, 30 Januari 2026 | 07:06 WIB
Di Balik Sorak-Sorai Akhir Tahun: Saatnya Menyepi dan Merapikan Batin

Ini bukan larangan untuk bersenang-senang, ya. Tapi ketika pesta menjadi satu-satunya makna, kita kehilangan kedalaman. Kembang api itu cantik, tapi cepet banget padam. Yang kita butuhkan buat menjalani tahun baru adalah cahaya yang lebih tahan lama pemahaman yang lebih dalam tentang diri sendiri.

Intinya, akhir tahun ini saatnya merapikan batin. Memaafkan hal-hal yang belum selesai, melepaskan beban yang nggak perlu lagi kita pikul. Menerima bahwa nggak semua hal bisa kita kendalikan. Momen ini mengajak kita berdamai dengan apa yang sudah lewat, supaya kita nggak menjadikannya beban di masa depan.

Kalau akhir tahun kita maknai sebagai peristiwa jiwa, dampaknya nggak akan berhenti di tanggal 31 Desember. Ia akan berlanjut jadi tekad yang hidup di hari-hari selanjutnya: tekad untuk lebih jujur, lebih peduli, dan lebih bertanggung jawab. Tahun baru bukan soal jadi manusia sempurna, tapi jadi manusia yang lebih sadar.

Jujur saja, tahun baru nggak akan benar-benar "baru" kalau kita masih membawa serta kelelahan lama, luka yang diabaikan, dan pelajaran yang nggak dipahami. Pergantian tahun cuma sebuah momen di kalender. Maknanya sepenuhnya ditentukan oleh kesadaran kita sendiri.

Jadi, sebelum larut dalam sorak-sorai dan hitung mundur, mungkin kita perlu menyisihkan waktu untuk sunyi sebentar. Cukup duduk, tarik napas dalam-dalam, dan akui dengan jujur: tahun ini memang berat, tapi kita sudah melewatinya. Dari sanalah jiwa menemukan pijakannya.

Karena hidup ini bukan tentang seberapa sering kita merayakan, tapi seberapa dalam kita mengerti perjalanan yang sudah kita lalui.

Akhir tahun, pada hakikatnya, adalah tentang jeda. Jeda yang memungkinkan kita untuk tidak sekadar hidup, tetapi benar-benar hadir di dalam hidup kita sendiri.


Halaman:

Komentar