Gemuruh kembang api, hingar-bingar konser, dan hiruk-pikuk diskon gila-gilaan. Itulah suara khas akhir tahun. Seolah ada aturan tak tertulis yang memaksa kita untuk ikut merayakannya. Kalau enggak, kita dianggap ketinggalan zaman atau malah kurang bersyukur. Tapi coba deh, di balik semua kemeriahan itu, berapa banyak sih dari kita yang sebenarnya justru merasa lelah?
Setahun penuh kita seperti dikejar setan. Target kerja, tuntutan hidup, dan usaha untuk tetap terlihat baik-baik saja di media sosial. Lelah, kan? Akhir tahun sering cuma jadi jeda sebentar sebelum kita kembali masuk ke arena lomba yang sama. Pesta dan keramaian itu jadi pelarian yang mudah. Cara instan untuk melupakan beban, meski cuma sesaat. Sayangnya, yang sering terlupakan bukan masalahnya, tapi diri kita sendiri.
Menurutku, akhir tahun sebenarnya bukan soal cara kita menutupnya. Bukan tentang kemeriahan. Ini lebih ke soal kejujuran. Momen alami buat berhenti dan bertanya pada diri sendiri: gimana kabarnya tahun ini? Apa yang berubah, tumbuh, atau malah hilang tanpa kita sadari?
Kita sibuk bikin resolusi panjang. Tapi refleksi? Itu yang sering ketinggalan. Padahal tanpa itu, resolusi cuma daftar keinginan yang bakal menguap di pertengahan Januari. Kita pengen hidup lebih baik, lebih tenang. Tapi jarang ada keberanian buat menelisik, kenapa tahun ini terasa begitu berat. Kenapa rasa lelah itu menumpuk, atau kenapa kebahagiaan kok rasanya makin menjauh.
Di situlah seharusnya akhir tahun berperan. Bukan sebagai perayaan angka belaka, tapi sebagai ruang untuk menyadari.
Di sisi lain, akhir tahun juga mengajarkan satu hal penting: hidup ini nggak melulu soal pencapaian. Ada rencana yang gagal total, jalan yang ternyata buntu. Itu bukan aib. Itu bagian dari perjalanan yang wajar. Jiwa yang sehat bukan jiwa yang selalu menang, tapi yang bisa menerima kenyataan, belajar darinya, lalu bangkit lagi.
Di tengah budaya yang suka pamer kebahagiaan instan, refleksi sering dicap sebagai sesuatu yang muram dan negatif. Padahal nggak selalu begitu. Diam dan berpikir itu bukan tanda kekalahan. Justru dalam keheningan, kita bisa dengar suara-suara yang selama ini tertutup keriuhan: suara lelah kita, harapan yang tersembunyi, keinginan terdalam yang belum kesampaian. Akhir tahun itu kesempatan langka untuk mendengarkan semua itu.
Artikel Terkait
Dedi Mulyadi Tersentak, Tukang Es Viral Bohong Soal Nasibnya
Mengapa Rusdi Mappasessu Tinggalkan Kursi DPR untuk PSI yang Nihil Kursi?
Ekonom Yanuar Rizky Peringatkan Puncak Badai Ekonomi Akan Hantam Indonesia September 2026
Merapi Muntahkan Awan Panas 1.500 Meter, Status Siaga Tetap Dipertahankan