Sebagai mahasiswa kesehatan, saya akrab banget dengan istilah-istilah anatomi. Sistem rangka? Itu materi dasar yang selalu muncul. Dulu, saya cuma lihat tulang sebagai daftar hafalan: berapa jumlahnya, bentuknya seperti apa, di mana letaknya. Pokoknya, hapal saja. Tapi lama-lama, pandangan itu berubah.
Kesibukan kuliah bikin saya sering duduk berjam-jam, berdiri lama di lab praktikum, atau menjinjing tas berat penuh buku dan alat. Di tengah kesibukan itu, tubuh mulai 'protes'. Pegal di punggung, nyeri leher, atau kaki yang pegal jadi pengalaman yang makin sering. Baru deh saya merasakan langsung bagaimana sistem rangka ini bekerja tanpa henti.
Dari situlah saya sadar. Sistem rangka bukan cuma teori ujian. Ini tentang tulang, sendi, dan semua penopangnya yang terus bekerja siang-malam menahan tubuh kita. Kalau sistem ini mulai bermasalah, aktivitas sehari-hari yang butuh konsentrasi seperti praktikum atau belajar langsung terasa jauh lebih berat.
Memang ironis sih. Sebagai calon tenaga kesehatan, kami paham betul teorinya, tapi dalam keseharian justru sering abai. Posisi duduk asal-asalan, malas peregangan, dan begadang seolah jadi hal yang biasa. Padahal, kebiasaan sepele itu bisa berakibat serius untuk kesehatan tulang ke depannya.
Artikel Terkait
Chiki Fawzi Dapat Closure dari Kemenhaj, Ini Alasan Pencopotannya
Polri Serap Aspirasi Publik untuk Transformasi Layanan
Malam Larut di Bandung, dan Kenangan yang Tak Kunjung Pergi
Babinsa Kemayoran Dihukum Berat Usai Insiden Penjual Es Gabus