Di sebuah symposium bertajuk 'Halal Beyond Compliance' di Menara Syariah, Tangerang, Rabu lalu, Menteri Koperasi Ferry Juliantono menyoroti satu hal yang menarik. Menurutnya, ada potensi besar yang belum sepenuhnya digarap: peran koperasi pesantren. Ferry melihat mereka bisa jadi 'kakak asuh' yang ampuh.
Untuk siapa? Untuk Koperasi Desa Merah Putih, program strategis nasional yang sedang digenjot.
"Kami punya contoh nyata," ujar Ferry dalam keterangan tertulisnya.
"Lihat saja Koperasi Pondok Pesantren Sunan Gresik, Sidogiri, atau Nurul Jadid. Mereka sudah sukses mengelola bisnis besar, punya pabrik, ritel. Pengalaman dan pengetahuan mereka itu berharga sekali."
Harapannya jelas. Dengan pendampingan dari yang sudah berpengalaman, Kopdes Merah Putih bisa tumbuh lebih cepat. Program ini sendiri ambisius, bergerak di banyak sektor vital. Mulai dari distribusi sembako, pengelolaan klinik dan apotek desa, sampai layanan keuangan mikro. Dampaknya diharapkan langsung terasa di tingkat warga.
Di sisi lain, pembangunan fisiknya juga sudah jalan. Tak cuma wacana. Saat ini sedang dibangun gudang-gudang modern untuk menyimpan produk lokal dan kebutuhan pokok. Juga ada pembangunan apotek dan klinik desa.
"Ini penting banget," tegas Ferry.
"Untuk menciptakan ketahanan. Gudang, apotek, klinik, plus dukungan lembaga keuangan mikro di tingkat desa. Nantinya, akan ada juga kendaraan logistik khusus agar distribusi barang lancar. Rantai distribusi yang panjang dan bikin harga mahal harus kita putus."
Misi besarnya sederhana: membuat koperasi desa menjadi ujung tombak pelayanan dasar dengan harga yang lebih terjangkau.
Lebih jauh, Ferry mengingatkan soal ekonomi syariah. Jangan sampai hanya berkutat di sektor keuangan saja. Itu pesannya. Ekonomi syariah harus menyentuh sektor riil agar pertumbuhannya adil dan bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
"Kami mendorong koperasi syariah untuk lebih aktif lagi," imbuhnya.
Sebagai Ketua Harian Masyarakat Ekonomi Syariah, ia punya alasan untuk optimis. Posisi Indonesia di Global Islamic Economy Indicator kini naik ke peringkat ketiga dunia. Sebuah pencapaian yang bagus.
Tapi ia punya catatan. Dengan mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), ekonomi syariah bisa naik level lebih tinggi. Menjadi ekosistem yang tak cuma kuat, tapi juga bertanggung jawab dan berkelanjutan untuk jangka panjang.
Artikel Terkait
Napak Tilas 10 Perubahan Kurikulum Pendidikan Indonesia dari Era Kemerdekaan hingga Kurikulum Merdeka
KPK Tangkap Lima ASN BPK di OTT Perluasan Kasus Suap Bupati Muara Enim
Komisi XIII DPR Tolak Anggaran KemenHAM, Nilai Lebih Besar Pasak daripada Tiang
Polres Metro Bekasi Selidiki Laporan Dugaan Intimidasi oleh Ketua APDESI Jabar di Pebayuran