"Masjid-masjid milik pemerintah harus dikelola oleh NU, kalau tidak salah semua!"
Pernyataan itu terbuka. Bukan bisik-bisik. Masjid kampus di PTN dan beberapa kampus swasta besar pun kena imbas. Ini bukan isu samar lagi.
Dengan pendekatan seperti ini, masjid kampus tak perlu dibubarkan. Cukup dijinakkan secara struktural. Maka, kegiatan keilmuan akan mandek dengan sendirinya. Diskusi menyusut. Kajian kritis menghilang. Masjid pun berubah menjadi ruang aman bukan untuk ilmu, melainkan untuk status quo.
Kebijakan administratif lalu menyempurnakan proses penjinakan ini. Masjid kampus dan seluruh kegiatannya ditempatkan di bawah Purek IV. Sejak saat itu, ia bukan lagi ruang intelektual yang bernapas lega. Ia berubah menjadi unit kegiatan yang tunduk pada logika birokrasi. Apa yang boleh, apa yang sensitif, apa yang harus dihindari semuanya ditentukan dari luar tembok masjid.
Di titik ini, ada satu hal penting yang harus kita pegang. Segmentasi masjid tidak pernah sama dengan eksklusivitas. Masjid kampus, masjid ormas, masjid perumahan, atau masjid perkantoran itu cuma penanda lokasi. Bukan sertifikat kepemilikan ideologis. Tidak ada masjid yang berhak menutup diri hanya karena berdiri di lingkungan tertentu. Ia tetaplah masjid: ruang terbuka untuk publik umat. Terbuka siang malam, setiap hari.
Sejak awal Islam, masjid adalah tempat pertemuan berbagai lapisan. Yang alim duduk berdampingan dengan yang baru belajar. Yang mapan berdialog dengan yang gelisah. Yang kritis tidak diusir, yang awam tidak direndahkan. Maka, kalau kita sungguh-sungguh berkaca pada Sirah Nabawiyah, masjid harus dikembalikan ke fungsi optimalnya. Ia harus menjadi basis semua golongan dan lapisan intelektual. Bukan alat kontrol. Bukan ruang steril dari gagasan. Dan jelas, bukan perpanjangan tangan birokrasi. Jujur saja, bukankah ketakutan pada ide-ide muda adalah ciri khas otoritarianisme?
Jadi, masjid inklusif itu bukan istilah impor. Ia adalah pulang. Pulang ke rumah sendiri ke masjid yang hidup, berani, dan membesarkan hati umat. Biarlah semua umat Islam yang menjaganya, bukan sekadar satpam atau petugas parkir. Pada akhirnya, itulah yang kita rindukan…
MASJID NABAWIYAH!!!
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
"Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah. Maka janganlah kamu menyembah apa pun di dalamnya selain Allah."
(QS. Al-Jinn 72: Ayat 18)
Artikel Terkait
Polri Serap Aspirasi Publik untuk Transformasi Layanan
Malam Larut di Bandung, dan Kenangan yang Tak Kunjung Pergi
Babinsa Kemayoran Dihukum Berat Usai Insiden Penjual Es Gabus
Prabowo Pacu Proyek 141 Ribu Rumah Subsidi, Cikarang Jadi Lokomotif