Penyebab utamanya jelas: hujan deras yang tak henti mengguyur Ibu Kota. Genangan air meresap dan melemahkan struktur jalan. Hasilnya? Aspal ambles, terkelupas, dan meninggalkan jurang-jurang kecil yang sangat berbahaya, terutama bagi pengendara sepeda motor.
Di sisi lain, Pemerintah DKI Jakarta sebenarnya sudah menyadari masalah ini. Gubernur Pramono Anung mengakui bahwa penanganan jalan berlubang adalah prioritas. Namun begitu, ada kendala cuaca yang menurutnya sulit dilawan.
“Hal yang berkaitan dengan jalan berlubang, sebenarnya Pemerintah DKI Jakarta melalui Dinas Bina Marga ingin segera melakukan penambalan atau penanganan jalan-jalan yang berlubang,”
kata Pramono saat meninjau normalisasi kali di Cilincing, Selasa (27/1).
Sayangnya, niat itu terpaksa ditahan. Prediksi curah hujan tinggi hingga awal Februari dinilai akan membuat segala perbaikan jadi sia-sia. Aspal tambalan baru bisa terlepas lagi hanya dalam hitungan hari.
“Tetapi sekali lagi, karena sampai dengan tanggal 1 curah hujannya itu akan tinggi, kalau kita lakukan sekarang, pasti 1-2 hari akan terkelupas kembali. Dan itu terjadi kemarin yang ada di Jalan Gatot Subroto,”
ujarnya. Jadi, ada dilema. Di satu sisi, lubang menganga dan memakan korban. Di sisi lain, perbaikan di tengah hujan dianggap seperti membuang uang dan tenaga. Sementara itu, pengendara harus terus berjibaku dengan jalanan yang semakin rusak.
Artikel Terkait
KPK Geledah Kantor Disdik Madiun, Sita Uang Tunai Puluhan Juta
Porsche Cayenne Pakai Plat Palsu Kemhan Diamankan di Halim
Histeria Pedagang Sate Saat Patroli Satpol PP Ricuhkan Malioboro
Es Gabus Dituduh Spons, Kapolri dan Panglima TNI Didesak Beri Hukuman Tegas