Donald Trump tak bosan-bosannya mengirim pesan keras ke Iran. Kali ini, mantan Presiden AS itu kembali mengeluarkan peringatan serius soal program nuklir Teheran. "Waktu hampir habis," katanya, mendesak Iran untuk segera bernegosiasi. Peringatan ini datang bersamaan dengan pengerahan kekuatan militer AS di Teluk Persia yang makin masif.
Lewat Truth Social, Trump mengklaim Amerika telah mengirim armada laut besar-besaran ke kawasan. Armada itu dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln, yang disebutnya bergerak cepat dengan kekuatan penuh. "Kekuatan kita siap," tegasnya, tanpa merinci lebih jauh kapan misi itu akan dijalankan.
Tanggapan dari Iran pun datang cepat. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan angkatan bersenjatanya sudah dalam kondisi siaga penuh.
"Kami siap merespons dengan cepat dan kuat terhadap segala serangan, baik dari darat maupun laut," ujarnya.
Iran kembali meyakinkan dunia bahwa program nuklirnya murni untuk damai. Mereka membantah keras tuduhan AS dan sekutunya yang menyebut mereka sedang mengejar senjata nuklir.
Isu Nuklir Jadi Sorotan Utama
Meski sebelumnya sempat menyoroti gelombang protes dalam negeri Iran, kali ini peringatan Trump lebih fokus ke isu nuklir. Demonstrasi besar-besaran di Iran sendiri dipicu anjloknya nilai mata uang, yang kemudian berkembang jadi krisis kepercayaan terhadap para pemimpin ulama di sana.
Trump berharap Iran mau duduk di meja perundingan. Syaratnya jelas: tidak boleh ada senjata nuklir. Dia bahkan tak segan mengancam. "Serangan berikutnya akan jauh lebih berat," katanya, jika Iran tidak mengubah sikap.
Pendapat serupa datang dari Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio. Menurutnya, posisi pemerintahan Iran saat ini adalah yang terlemah dalam beberapa dekade.
"Krisis ekonomi yang parah membuat mereka kesulitan memenuhi tuntutan rakyatnya sendiri," tutur Rubio.
Geliat Militer di Bawah Permukaan
Laporan dari BBC Verify mengungkap peningkatan signifikan kehadiran militer AS di Timur Tengah dalam dua pekan terakhir. Setidaknya 15 jet tempur dilaporkan tiba di Yordania. Aktivitas pesawat militer juga meningkat di Qatar dan sekitar Samudra Hindia.
Tak cuma itu, puluhan pesawat kargo, pesawat pengisian bahan bakar, drone, dan pesawat pengintai terlihat beroperasi di sekitar wilayah udara Iran. Armada USS Abraham Lincoln sendiri dikabarkan telah memasuki kawasan.
Iran tak tinggal diam. Mereka dikabarkan mengerahkan kapal induk drone IRIS Shahid Bagheri di dekat pesisirnya, sebuah langkah antisipasi yang jelas terlihat.
Kesepakatan yang Rusak dan Balas-Membalas
Semua ini berawal dari kesepakatan nuklir 2015. Waktu itu, Iran dibatasi memperkaya uranium hanya sampai 3,67 persen dan dilarang mengolahnya di fasilitas Fordo selama 15 tahun. Tapi Trump menarik AS dari perjanjian itu di 2018, lalu menjatuhkan sanksi berat yang mengguncang ekonomi Iran.
Sebagai balasan, Iran perlahan-lahan melanggar batasan pengayaan uranium itu. AS kini menuntut lebih: hentikan pengayaan, batasi program misil, dan stop dukungan untuk kelompok proksi di Timur Tengah. Barulah negosiasi baru bisa dimulai.
Ketegangan ini pernah memuncak Juni tahun lalu. AS menyerang fasilitas nuklir Iran di Fordo, Natanz, dan Isfahan. Iran membalas dengan meluncurkan misil ke pangkalan militer AS di Qatar. Trump waktu itu menyebut serangan balasan Iran "lemah" dan sudah diperkirakan.
Sekarang, ketegangan serupa terasa kembali menguat. Dunia internasional menahan napas, menunggu apakah kedua negara ini akhirnya akan berunding atau justru saling menghantam lebih keras.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu