Laporan dari BBC Verify mengungkap peningkatan signifikan kehadiran militer AS di Timur Tengah dalam dua pekan terakhir. Setidaknya 15 jet tempur dilaporkan tiba di Yordania. Aktivitas pesawat militer juga meningkat di Qatar dan sekitar Samudra Hindia.
Tak cuma itu, puluhan pesawat kargo, pesawat pengisian bahan bakar, drone, dan pesawat pengintai terlihat beroperasi di sekitar wilayah udara Iran. Armada USS Abraham Lincoln sendiri dikabarkan telah memasuki kawasan.
Iran tak tinggal diam. Mereka dikabarkan mengerahkan kapal induk drone IRIS Shahid Bagheri di dekat pesisirnya, sebuah langkah antisipasi yang jelas terlihat.
Kesepakatan yang Rusak dan Balas-Membalas
Semua ini berawal dari kesepakatan nuklir 2015. Waktu itu, Iran dibatasi memperkaya uranium hanya sampai 3,67 persen dan dilarang mengolahnya di fasilitas Fordo selama 15 tahun. Tapi Trump menarik AS dari perjanjian itu di 2018, lalu menjatuhkan sanksi berat yang mengguncang ekonomi Iran.
Sebagai balasan, Iran perlahan-lahan melanggar batasan pengayaan uranium itu. AS kini menuntut lebih: hentikan pengayaan, batasi program misil, dan stop dukungan untuk kelompok proksi di Timur Tengah. Barulah negosiasi baru bisa dimulai.
Ketegangan ini pernah memuncak Juni tahun lalu. AS menyerang fasilitas nuklir Iran di Fordo, Natanz, dan Isfahan. Iran membalas dengan meluncurkan misil ke pangkalan militer AS di Qatar. Trump waktu itu menyebut serangan balasan Iran "lemah" dan sudah diperkirakan.
Sekarang, ketegangan serupa terasa kembali menguat. Dunia internasional menahan napas, menunggu apakah kedua negara ini akhirnya akan berunding atau justru saling menghantam lebih keras.
Artikel Terkait
Motor Pemberian Kapolres Malah Dipakai Ngojek, Gubernur Jawa Barat Syok Dengar Pengakuan Suderajat
Feri Amsari Soroti Pola Rusak Tata Negara yang Terus Berlanjut
PPATK Catat Penurunan Signifikan Perputaran Dana Judi Online pada 2025
Persada 212 Desak Indonesia Keluar dari Board of Peace Trump, Sebut Wadah Pengkhianatan bagi Palestina