Armada perang AS dikerahkan ke Timur Tengah. Lalu, pada Rabu 27 Januari, Trump kembali menyalakan kertas minyak lewat media sosialnya. Dia mendesak Iran segera berunding soal nuklir atau menghadapi konsekuensinya.
Berikut cuplikan pernyataannya yang khas:
Rombongan armada besar sedang menuju Iran. Armada itu bergerak cepat, dengan kekuatan, semangat, dan tujuan yang besar. Ini adalah armada yang lebih besar, dipimpin oleh kapal induk besar Abraham Lincoln, dibandingkan armada yang pernah dikirim ke Venezuela. Seperti halnya Venezuela, armada ini siap, bertekad, dan mampu melaksanakan misinya dengan cepat, dengan kecepatan dan kekerasan jika diperlukan.
Semoga Iran segera “datang ke meja perundingan” dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan seimbang TANPA SENJATA NUKLIR kesepakatan yang baik bagi semua pihak. Waktu hampir habis, ini benar-benar soal urgensi!
Seperti yang pernah saya katakan kepada Iran sebelumnya, BUATLAH KESEPAKATAN! Mereka tidak melakukannya, dan terjadilah “Operasi Midnight Hammer”, sebuah kehancuran besar terhadap Iran. Serangan berikutnya akan jauh lebih buruk! Jangan biarkan itu terjadi lagi.
Operasi Midnight Hammer yang dia sebut itu merujuk pada serangan AS di Juni 2025 terhadap situs-situs yang diduga terkait nuklir Iran. Ancaman Trump jelas tidak main-main. Tapi Iran juga bukan pihak yang mudah gentar.
Merespon semua ini, Tehran sudah menyatakan kesiapannya. Mereka akan membalas habis-habisan jika negaranya diserang. Jadi, sementara diplomasi antara Riyadh dan Tehran mencair, ketegangan dengan Washington justru mengeras. Kawasan ini sekali lagi seperti menahan napas, menunggu langkah selanjutnya.
Artikel Terkait
AVC Tetapkan Grup Champions Club Asia 2026, Indonesia Jadi Tuan Rumah dengan Dua Wakil
Simon Grayson Resmi Jadi Asisten Pelatih Timnas Indonesia
Raphinha Cetak Hattrick, Barcelona Hancurkan Sevilla 5-2
Manchester United Kalahkan Aston Villa 3-1, Raih Tiga Poin Krusial di Old Trafford