Kesibukan Bukan Alasan: Persahabatan yang Mati Pelan-Pelan di Era Modern

- Kamis, 29 Januari 2026 | 08:06 WIB
Kesibukan Bukan Alasan: Persahabatan yang Mati Pelan-Pelan di Era Modern

Kesibukan. Kata itu jadi tameng paling nyaman saat hubungan persahabatan mulai renggang. Hidup memang serba cepat, dan kita dengan mudahnya menyalahkan pekerjaan, target, atau ambisi pribadi sebagai biang keladi. Semua itu ditaruh di garis terdepan. Sahabat? Mereka seringnya cuma bisa antre di belakang.

Bukan karena kita nggak peduli lagi, sih. Tapi lebih karena kita anggap mereka akan selalu ada, menunggu. Kesibukan memberi kita izin untuk absen, tanpa rasa bersalah yang berarti.

Lihat saja sekarang. Ukuran persahabatan seolah berubah. Bukan lagi dari frekuensi ketemu atau ngobrol, tapi dari narasi klise bahwa, "Kami saling paham kok, meski jarang ngobrol." Kedengarannya dewasa banget, ya? Bijaksana. Namun begitu, di balik kata-kata indah itu, seringkali terselip dalih yang nyaman untuk membiarkan jarak merayap tanpa usaha apa-apa. Kita bangga menyebutnya kedewasaan, padahal bisa jadi itu cuma kelelahan sosial yang dibungkus rapi.

Memang nggak semua pertemanan harus intens. Saling memberi ruang itu perlu. Sahabat sejati mengerti bahwa setiap orang punya dunianya sendiri dan nggak akan menuntut kehadiran 24 jam.

Tapi di sini bahayanya: ada batas tipis antara memberi ruang dan cuek. Saat chat dibiarkan, kabar tak lagi diumbar, dan janji ketemu cuma jadi wacana yang terus ditunda, perlahan-lahan persahabatan itu berubah jadi arsip kenangan. Hidup cuma di masa lalu.

Ini yang ironis. Banyak persahabatan masa kini nggak mati karena pertengkaran hebat atau drama perpisahan. Nggak. Mereka mati pelan-pelan, dikubur oleh sikap acuh yang dibiarkan menumpuk. Sampai suatu hari kita tersadar: hubungan itu sudah berhenti berdenyut. Kita masih menyebutnya "sahabat", tapi kehadirannya sudah tak terasa lagi.

Di sisi lain, pola pertemanan juga bergeser jadi sesuatu yang fungsional. Sahabat seringnya muncul saat ada kepentingan butuh bantuan, butuh relasi, butuh pelampiasan emosi lalu menghilang lagi setelah urusan beres.


Halaman:

Komentar