Persebaya Tumpuk Denda hingga Rp590 Juta, Tertinggi di Liga 1 2025/2026

- Minggu, 15 Maret 2026 | 13:30 WIB
Persebaya Tumpuk Denda hingga Rp590 Juta, Tertinggi di Liga 1 2025/2026

Musim Liga 1 2025/2026 masih berjalan, tapi bagi Persebaya Surabaya, ada catatan lain yang justru menyita perhatian. Bukan tentang posisi di klasemen, melainkan sebuah angka yang bikin geleng-geleng: denda klub ini sudah menumpuk hingga Rp590 juta. Jumlah yang fantastis, dan ironisnya, menjadikan mereka klub dengan denda terbesar sejauh ini.

Angka itu bukan cuma deretan nominal di atas kertas. Ia lebih mirip cermin dari hubungan kompleks antara klub dan suporternya sebuah ikatan yang penuh gejolak, kadang hangat, tapi tak jarang berujung pada konsekuensi yang pahit.

Yang agak menyedihkan, sorotan ini muncul justru saat performa tim di lapangan sedang tak menentu. Lima laga terakhir mereka? Cuma satu kemenangan, imbang sekali, dan sisanya tiga kekalahan. Mulai dari takluk dari Bhayangkara FC (1-2) pertengahan Februari, lalu dikalahkan Persijap Jepara (3-1), sebelum akhirnya bisa menang tipis 1-0 atas PSM Makassar. Harapan sempat tumbuh, tapi langsung diuji saat bertemu Persib Bandung di kandang sendiri, Stadion Gelora Bung Tomo, awal Maret lalu.

Nah, pertandingan melawan Persib itulah yang kemudian memicu masalah baru.

Menurut laporan pengawas pertandingan, suporter Persebaya di Tribun Utara terlihat menyalakan petasan dan kembang api dalam jumlah yang cukup besar. Aksi itu jelas melanggar aturan main, tertuang dalam Kode Disiplin PSSI Tahun 2025. Alhasil, Komite Disiplin PSSI pun turun tangan.

Keputusan sidang pada 9 Maret 2026 tegas: Persebaya kena denda Rp250 juta, plus hukuman penutupan Tribun Utara untuk satu laga kandang berikutnya. Ada peringatan keras juga, pelanggaran serupa di masa depan bakal diganjar lebih berat.

Sanksi itu seperti puncak gunung es. Sebab, jika diakumulasi dengan denda-denda sebelumnya sepanjang musim, totalnya benar-benar mencapai Rp590 juta. Sebuah angka yang, kalau dirunut, menempatkan Persebaya di puncak daftar ‘klub paling banyak didenda’. Di bawahnya ada Persis Solo (Rp540 juta), Bali United (Rp425 juta), Persib (Rp255 juta), dan PSM Makassar (Rp210 juta).

Di kalangan suporter, angka segitu bikin banyak yang merenung. “Dana segitu bisa memperbagus stadion GBT,” tulis seorang Bonek dalam sebuah forum daring. Memang, uang sebanyak itu setara dengan nilai kontrak pemain level menengah atas di Liga 1. Bisa dibayangkan, dananya bisa dialihkan untuk hal yang lebih produktif memperkuat skuad atau membenahi fasilitas.

Menyikapi hal ini, manajemen Persebaya memilih jalan persuasif. Lewat akun media sosial resminya, mereka menyebar seruan singkat: “Ayo Bersama Kita Jaga Persebaya.”

Pesan itu disambut beragam. Banyak suporter yang mengajak sesamanya untuk introspeksi. Ada juga yang mengingatkan, fanatisme butuh diimbangi dengan tanggung jawab. Sebab, ketika dukungan melampaui batas, klublah yang akhirnya menanggung beban finansialnya.

Inilah sisi lain sepak bola Indonesia. Semangat suporter adalah nyawa yang menghidupkan stadion, menciptakan atmosfer tak terlupakan. Tapi di era sekarang, semangat saja tak cukup. Perlu kesadaran kolektif.

Bagi Persebaya dan Green Force, angka Rp590 juta itu mungkin akan jadi pengingat sepanjang musim. Cinta pada klub tak cuma diukur dari kerasnya teriakan di tribun, tapi juga dari sikap yang menjaga agar klub tak terus-menerus merugi.

Perjalanan masih panjang. Di lapangan, masih ada waktu untuk memperbaiki catatan. Sementara di luar lapangan, tantangannya tak kalah besar: bagaimana menjaga gairah itu tetap membara, tanpa harus membayarnya dengan harga yang selangit.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar