Harga minyak yang terus melambung di atas angka seratus dolar per barel memicu dinamika politik yang tak terduga. Kali ini, Moskow secara terbuka mendesak Washington untuk mencabut lebih banyak sanksi yang membelenggu ekspor minyak Rusia. Tuntutan ini muncul di tengah gejolak pasar energi global yang makin tak menentu.
Latar belakangnya adalah perang di Timur Tengah. Serangan antara AS-Israel dan Iran, serta balasannya di kawasan Teluk, sempat membuat Selat Hormuz macet total. Padahal, selat sempit itu adalah urat nadi pasokan energi dunia. Gangguan sejenak saja langsung memicu lonjakan harga yang signifikan.
Menanggapi situasi itu, Amerika Serikat rupanya mengambil langkah longgar. Mereka mengizinkan penjualan minyak Rusia yang sudah berada di laut. Namun, kebijakan ini justru menuai kritik pedas dari sekutu-sekutu AS di Eropa. Bagi mereka, pendapatan dari minyak itu jelas akan dipakai Rusia untuk mendanai perang di Ukraina.
Di sisi lain, Kremlin punya argumen sendiri. Menurut mereka, langkah pelonggaran sanksi justru diperlukan untuk meredam gejolak pasar.
"Tindakan seperti itu oleh Amerika Serikat, sampai batas tertentu, akan membantu menstabilkan pasar," ujar Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, dalam sebuah konferensi pers.
Dia menegaskan, "Tanpa volume minyak Rusia yang signifikan, stabilisasi pasar tidak mungkin dilakukan."
Pernyataan Peskov bukan tanpa alasan. Rusia adalah raksasa energi, salah satu produsen dan eksportir minyak terbesar di planet ini. Ketika pasokan dari Timur Tengah terganggu, peran mereka jadi kian sentral. Ironisnya, konflik yang mengguncang kawasan justru bisa menguntungkan Moskow.
Analis memperkirakan, setiap kenaikan harga minyak sebesar sebelas dolar per barel akan menyuntikkan tambahan pendapatan fantastis bagi Rusia: sekitar 28 miliar dolar per tahun. Angka yang sungguh tak main-main. Dengan kata lain, Rusia berpotensi menjadi pemenang besar dari perang di Timur Tengah ini, sambil terus mendesak AS untuk mencabut sanksi-sanksi lainnya.
Artikel Terkait
Thailand U-19 Kalah 0-2 dari Australia di Final Piala AFF, Pelatih Justru Bangga
Kemendikdasmen Revitalisasi 16.167 Sekolah hingga 2025, Tahun Ini Target Rampung Sambut Tahun Ajaran Baru
Trump Rayakan Ultah ke-80 di Gedung Putih dengan Gelaran UFC Mewah Berbiaya 60 Juta Dolar
Kementerian PU Alokasikan Rp1,65 Triliun untuk Program Infrastruktur Berbasis Masyarakat pada 2027