Harga minyak yang terus melambung di atas angka seratus dolar per barel memicu dinamika politik yang tak terduga. Kali ini, Moskow secara terbuka mendesak Washington untuk mencabut lebih banyak sanksi yang membelenggu ekspor minyak Rusia. Tuntutan ini muncul di tengah gejolak pasar energi global yang makin tak menentu.
Latar belakangnya adalah perang di Timur Tengah. Serangan antara AS-Israel dan Iran, serta balasannya di kawasan Teluk, sempat membuat Selat Hormuz macet total. Padahal, selat sempit itu adalah urat nadi pasokan energi dunia. Gangguan sejenak saja langsung memicu lonjakan harga yang signifikan.
Menanggapi situasi itu, Amerika Serikat rupanya mengambil langkah longgar. Mereka mengizinkan penjualan minyak Rusia yang sudah berada di laut. Namun, kebijakan ini justru menuai kritik pedas dari sekutu-sekutu AS di Eropa. Bagi mereka, pendapatan dari minyak itu jelas akan dipakai Rusia untuk mendanai perang di Ukraina.
Artikel Terkait
Kapolri Tinjau Terminal Purabaya, Imbau Sopir Waspada dan Siapkan Cadangan untuk Mudik Lebaran
Indonesia Tawarkan Listrik Surya ke Singapura, Bidik Investasi Industri Hijau di BBK
Menteri Keuangan Bantah Rupiah Terpuruk Akibat Konflik Timur Tengah
Wapres Gibran Imbau Keselamatan dan Kesehatan Saat Mudik Lebaran 2026