Rusia Desak AS Cabut Sanksi Minyak, Manfaatkan Gejolak Timur Tengah

- Minggu, 15 Maret 2026 | 13:30 WIB
Rusia Desak AS Cabut Sanksi Minyak, Manfaatkan Gejolak Timur Tengah

Harga minyak yang terus melambung di atas angka seratus dolar per barel memicu dinamika politik yang tak terduga. Kali ini, Moskow secara terbuka mendesak Washington untuk mencabut lebih banyak sanksi yang membelenggu ekspor minyak Rusia. Tuntutan ini muncul di tengah gejolak pasar energi global yang makin tak menentu.

Latar belakangnya adalah perang di Timur Tengah. Serangan antara AS-Israel dan Iran, serta balasannya di kawasan Teluk, sempat membuat Selat Hormuz macet total. Padahal, selat sempit itu adalah urat nadi pasokan energi dunia. Gangguan sejenak saja langsung memicu lonjakan harga yang signifikan.

Menanggapi situasi itu, Amerika Serikat rupanya mengambil langkah longgar. Mereka mengizinkan penjualan minyak Rusia yang sudah berada di laut. Namun, kebijakan ini justru menuai kritik pedas dari sekutu-sekutu AS di Eropa. Bagi mereka, pendapatan dari minyak itu jelas akan dipakai Rusia untuk mendanai perang di Ukraina.

Di sisi lain, Kremlin punya argumen sendiri. Menurut mereka, langkah pelonggaran sanksi justru diperlukan untuk meredam gejolak pasar.

"Tindakan seperti itu oleh Amerika Serikat, sampai batas tertentu, akan membantu menstabilkan pasar," ujar Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, dalam sebuah konferensi pers.
Dia menegaskan, "Tanpa volume minyak Rusia yang signifikan, stabilisasi pasar tidak mungkin dilakukan."

Pernyataan Peskov bukan tanpa alasan. Rusia adalah raksasa energi, salah satu produsen dan eksportir minyak terbesar di planet ini. Ketika pasokan dari Timur Tengah terganggu, peran mereka jadi kian sentral. Ironisnya, konflik yang mengguncang kawasan justru bisa menguntungkan Moskow.

Analis memperkirakan, setiap kenaikan harga minyak sebesar sebelas dolar per barel akan menyuntikkan tambahan pendapatan fantastis bagi Rusia: sekitar 28 miliar dolar per tahun. Angka yang sungguh tak main-main. Dengan kata lain, Rusia berpotensi menjadi pemenang besar dari perang di Timur Tengah ini, sambil terus mendesak AS untuk mencabut sanksi-sanksi lainnya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar