Pola ini mungkin nggak disengaja, tapi dampaknya nyata. Hubungan kehilangan kehangatan dan kedalaman, berubah jadi transaksi yang dingin. Kontak di ponsel kita banyak, tapi tempat untuk benar-benar berlabuh dan bercerita justru makin sedikit.
Kesibukan lagi-lagi jadi kambing hitam. Padahal, seharusnya kesibukan mengajarkan kita tentang empati, bukan pembiaran. Kalau seseorang masih bisa meluangkan waktu buat scroll media sosial atau nonton serial, berarti soal waktu bukanlah alasan mutlak. Ini soal pilihan. Nggak semua orang sibuk kehilangan waktu; sebagian cuma mengatur ulang apa yang jadi prioritas.
Ini bukan berarti persahabatan harus menuntut perhatian yang membebani. Sama sekali nggak. Yang dibutuhkan sebenarnya sederhana saja: sebuah chat singkat "lagi apa?", sapaan tulus di hari ulang tahun, atau upaya nyata untuk ketemu walau cuma sebentar.
Hal-hal receh seperti ini sering dianggap sepele. Tapi justru inilah penanda bahwa ikatan itu masih bernyawa. Persahabatan layaknya tanaman nggak bisa hidup cuma dari kenangan dan niat baik di dalam hati. Dia butuh disiram, sekalipun airnya sedikit.
Pada akhirnya, sahabat sejati bukan mereka yang hadir di setiap detik kehidupan kita. Melainkan mereka yang, di tengah segala perubahan dan kesibukan, tetap memilih untuk bertahan. Di dunia yang mendorong kita lari kencang, persahabatan mestinya jadi tempat berhenti sejenak ruang di mana kita bisa merasa jadi manusia, bukan sekadar mesin pengejar target.
Jadi, menjaga persahabatan di era sekarang ini bukan cuma soal melawan waktu. Tapi lebih pada keberanian untuk nggak menjadikan kesibukan sebagai alasan sah untuk saling melupakan. Karena dalam hidup yang makin gaduh ini, sahabat adalah jeda paling jujur. Sering kita abaikan, padahal paling kita rindukan.
Artikel Terkait
Bareskrim Ungkap Dugaan Penyelewengan Dana Rp 2,4 Triliun di PT DSI
Bandara Ngurah Rai Siagakan Thermal Scanner Cegah Virus Nipah
Teddy dan Emil Bahas Infrastruktur Jatim hingga Program Prioritas Prabowo
Imigrasi Luncurkan Global Citizen of Indonesia, Izin Tinggal Seumur Hidup untuk Diaspora