Kabar baiknya, pekan lalu Ali Shaath mantan wakil menteri Otoritas Palestina yang memimpin NCAG mengumumkan Rafah akan dibuka kembali dalam waktu dekat. Pernyataan ini tentu disambut baik oleh Hamas.
Namun begitu, Qassem punya catatan. "Yang lebih penting adalah kita memantau penanganan komite ini," ujarnya. Ia ingin memastikan lalu lintas warga berjalan sepenuhnya sesuai perjanjian, bukan berdasarkan syarat-syarat yang ditetapkan Israel.
Soal komitmen terhadap gencatan senjata, Qassem menegaskan Hamas telah memenuhi kewajiban pada fase pertama. "Mereka siap untuk memasuki semua jalur fase kedua," imbuhnya. Fase berikutnya ini memang berat: mencakup pelucutan senjata Hamas dan penarikan penuh Israel dari Gaza.
Nah, soal pelucutan senjata ini selalu jadi soal pelik. Bagi Hamas, itu adalah garis merah. Meski begitu, mereka pernah mengisyaratkan keterbukaan untuk menyerahkan senjatanya tapi hanya kepada otoritas pemerintahan Palestina yang sah.
Hingga kini, baik Israel maupun Hamas belum punya peta jalan yang jelas. Tidak ada tanggal pasti, juga belum ada strategi yang disepakati bersama untuk proses penarikan dan pelucutan senjata itu. Semuanya masih digantungkan pada negosiasi dan, tentu saja, kondisi di lapangan.
Artikel Terkait
Hidayat Nur Wahid Desak Percepatan Pembentukan Ditjen Pesantren dan Dana Abadi Khusus
Wajah Tariq bin Ziyad Menghiasi Uang Kertas Gibraltar, Mengabadikan Jejak Sang Penakluk
Badai Kristine Guncang Portugal, 4 Tewas dan Ratusan Ribu Rumah Gelap Gulita
Muhammadiyah dan Polresta Bogor Sepakat Perkuat Dakwah yang Menyejukkan