BMKG: Hujan di Jawa-Bali Baru Reda Maret, Sumatera Justru Basah Saat Kemarau

- Rabu, 28 Januari 2026 | 18:30 WIB
BMKG: Hujan di Jawa-Bali Baru Reda Maret, Sumatera Justru Basah Saat Kemarau

Musim hujan di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara tampaknya masih akan bertahan beberapa minggu ke depan. Menurut prediksi terbaru BMKG, curah hujan tinggi di wilayah-wilayah itu baru akan benar-benar mereda sekitar Februari hingga Maret nanti.

Informasi ini disampaikan langsung oleh Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani. Ia berbicara usai rapat dengan Komisi V DPR di Senayan, Rabu lalu.

"Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, itu berakhir kira-kira nanti di sekitar Februari sampai Maret, ya. Sampai Maret,"

Begitu penjelasan Faisal. Artinya, kita harus bersabar dulu dengan cuaca yang kerap mendung dan gerimis ini.

Setelah masa itu berlalu, barulah kemarau akan tiba. Periode kering diperkirakan berlangsung cukup panjang, dari April dan berlanjut hingga September. Nah, hujan baru akan kembali mengguyur sekitar bulan Oktober. Siklusnya memang begitu dari tahun ke tahun.

Namun begitu, ceritanya jadi lain kalau kita melihat ke wilayah lain, khususnya yang dilintasi garis khatulistiwa. Ambil contoh Sumatera.

Faisal menyebut pola iklim di sana unik. Daerah seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mengalami dua kali musim hujan dan dua kali musim kemarau dalam setahun. Cukup berbeda, bukan?

"Jadi berbeda antara karakteristik iklim yang ada di daerah di dekat ekuator dengan daerah selatan seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara,"

Ia menambahkan, untuk Sumatera, salah satu periode hujan berikutnya justru diprediksi datang pada Mei-Juni. Bertepatan dengan saat Jawa sedang kering-kerontang. Ini jelas menunjukkan betapa beragamnya kondisi cuaca di negeri kita.

Jadi, siapkan payung untuk Jawa dan sekitarnya setidaknya hingga Maret. Sementara untuk warga Sumatera, bersiaplah untuk pola yang lebih dinamis sepanjang tahun.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar