Belakangan ini, es gabus tiba-tiba jadi perbincangan hangat di media sosial. Pemicunya, seorang penjual bernama Suderajat dituduh menjual es berbahan spons. Padahal, jajanan warna-warni dari tepung hunkwe ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Bisa dibilang, ini adalah dessert jadul yang punya sejarah panjang.
Nah, Kamis (28/1) lalu, kami menyambangi salah satu tempat produksi dan penjualan es gabus di Cilodong, Depok. Tokonya bernama King Durian 84, yang selain jual durian, juga menawarkan aneka kue dan camilan. Di antara semua itu, terselip es gabus yang mereka jual.
Esnya dikemas dalam boks thinwall berisi sepuluh potong. Harganya Rp 13 ribu per kotak. Cukup terjangkau untuk sekadar bernostalgia.
Begitu dibuka, warnanya langsung menarik perhatian. Merah, kuning, hijau, biru, ungu berjejer seperti pelangi. Makanya tak heran kalau banyak yang menyebutnya es pelangi. Disimpan di dalam freezer, lapisan luarnya terasa beku. Tapi coba tekan, teksturnya justru empuk dan lentur.
Saat digigit, sensasinya unik. Dinginnya langsung terasa. Teksturnya mirip roti tawar yang padat tapi mudah dikunyah. Rasa manisnya tidak langsung muncul, melainkan baru terasa setelah dikunyah beberapa kali. Inilah yang bikin orang langsung terkenang masa kecil, saat penjual kue keliling masih mudah ditemui.
Puji, kepala toko King Durian 84 yang berusia 30 tahun, menjelaskan soal bahan dasarnya.
"Ini pakai tepung hunkwe, atau tepung kacang hijau," katanya.
Artikel Terkait
Reshuffle Kabinet 2026: Wacana Mendadak atau Keniscayaan yang Ditunggu?
Kapolres Sleman Ungkap Dilema Hukum di Balik Kasus Hogi Minaya
Tinggal Tanda Tangan Presiden, Gaji Hakim Ad Hoc Segera Naik
Istana Tunggu Surat Resmi DPR untuk Pengangkatan Hakim MK