Kanker datang tanpa pemberitahuan. Diam-diam, sering dianggap remeh, lalu perlahan mengubah segalanya. Bagi Haryanti, Mei Hastuti, dan Sarinten, kanker payudara lebih dari sekadar diagnosis. Itu adalah perjalanan panjang yang menguji segala-galanya: fisik, mental, bahkan cara mereka melihat hidup dan harapan.
Haryanti takkan lupa hari itu. Dokter menyampaikan hasil pemeriksaannya. Benjolan kecil di dadanya yang berbulan-bulan ia abaikan ternyata bukan hal biasa. Rasa takut sempat membuatnya menunda. Ia berharap rasa nyeri itu akan hilang sendiri, seperti dulu. Tapi waktu justru berbalik jadi musuh. Saat akhirnya ia kembali ke rumah sakit, semuanya sudah terlambat. Kemoterapi pun tak terelakkan.
Masa-masa awal pengobatan sungguh berat. Tubuhnya lunglai. Rambut rontok sedikit demi sedikit. Mual datang hampir tanpa henti, membuat aktivitas sederhana seperti berjalan atau makan terasa begitu melelahkan. Penjelasan dokter sempat menghantam mentalnya.
Penyakit ini, kata sang dokter, tak selalu bisa dihilangkan sepenuhnya. Tugas kemoterapi cuma melemahkan sel-sel ganas yang menyebar lewat aliran darah.
Kalimat itu awalnya terdengar seperti vonis. Tapi lama-kelamaan, Haryanti memaknainya dengan cara lain. Ia mulai menerima bahwa pengobatan bukan jaminan kesembuhan total. Ini lebih tentang kesempatan. Kesempatan untuk bertahan lebih lama, dan hidup yang lebih bermakna. Dari sana, kekuatannya tumbuh perlahan. Setiap kali ia sanggup melewati satu sesi kemoterapi, itu adalah kemenangan kecil. Sesuatu yang patut disyukuri.
Di ruang yang sama, Mei Hastuti menjalani semuanya dengan sikap berbeda. Ia jarang mengeluh. Pada keluarga yang datang menjenguk, senyum selalu terpasang. Bagi Mei, menunjukkan kesedihan hanya akan membebani orang terdekat. Jadi, ia memilih menyimpan rasa sakitnya sendiri.
Namun begitu, di balik ketenangan itu tersimpan kecemasan yang mendalam. Ia kerap memikirkan masa depan anak-anaknya. Hidup yang mungkin takkan sama lagi. Ketidakpastian yang menyertai penyakit ini. Pada malam-malam sunyi, ketakutan itu kerap menyergap. Meski demikian, dukungan keluarga jadi penopang terkuatnya. Kehadiran mereka bahkan hanya untuk duduk diam membuatnya merasa tidak sendiri.
Dari situlah Mei belajar sesuatu. Bertahan bukan berarti harus kuat sendirian. Ada kalanya kita perlu berbagi beban. Meminta bantuan, baginya, bukan tanda kelemahan. Itu adalah bentuk keberanian untuk tetap melangkah di tengah segala keterbatasan.
Artikel Terkait
Api Tak Kunjung Padam, Pabrik di Medan Deli Dilahap Kobaran Semalaman
Badai Salju Tewaskan 30 Jiwa, Ribuan Wilayah AS Terjebak Gelap dan Beku
Indramayu Terendam, Warga Bertahan Demi Jaga Harta yang Tersisa
Diam yang Mematikan: Saat Remaja Kehilangan Ruang untuk Bercerita