Langit di atas Yogyakarta sore itu tampak kelabu. Cahyono Eko, 40 tahun, duduk tenang di depan kiosnya. Meski gerimis sesekali turun, ia tetap menunggu. Di depannya, berderet alat-alat elektronik rumah tangga yang sudah siap diambil: kipas angin, blender, pompa air. Semua sudah ia perbaiki.
Usaha servis dinamo ini sudah ia jalani tiga tahun. Lokasinya di Jalan Pembela Tanah Air, Kemantren Tegalrejo. Sebelum memutuskan terjun ke sini, Cahyo adalah karyawan swasta. Pensiun dulu, lalu belajar otodidak. Pada akhirnya, ia memilih meneruskan warisan keluarga.
"Saya baru tiga tahun. Sebelumnya bapak mertua saya sejak 1990. Bapak mertua saya sudah sepuh sekarang akhirnya di rumah,"
Begitu ia memulai cerita.
"Di sini dulu awalnya (terkenal) perbaikan spul dinamo. Kaya spul dinamo pompa air, peralatan rumah tangga kaya blender dan mixer. Kalau (dinamo) terbakar bisa diservis di sini,"
tambahnya. Intinya, hampir semua peralatan rumah tangga yang pakai dinamo bisa ia tangani. Mulai dari pompa air, gerinda, blender, sampai setrika. Jalan ini sejak dulu memang dikenal dengan empat kios servis serupa.
"Sejak dulu empat gini. Tidak ada hubungan keluarga. Dulu katanya, bapak mertua saya pertama kali di sini terus ada orang lain juga yang ikut buka juga. Cari rezeki bareng-bareng,"
jelas Cahyo soal tetangga-tetangga bisnisnya.
Lawan Arus Zaman
Di tengah gempuran produk elektronik murah, bisnis seperti ini masih bisa bertahan. Tapi tantangannya nyata. Cahyo mengakui, misalnya, servis kipas angin sekarang jauh berkurang. Harganya yang murah bikin orang lebih memilih beli baru ketimbang memperbaiki.
Artikel Terkait
Hilang di Lereng Lawu, Pencarian Yasid Masih Mentok di Hari Kesembilan
Kapolres Depok Bantu Tukang Es Gabus dengan Motor dan Jaminan Keamanan
Havas Buka Suara: Palestina Punya Peran Kunci di Board of Peace
Keluarga Diserang Usai Nyaris Tabrak Pemotor di Luwu, Istri dan Tiga Balita Terluka Bakar