Menurut Muslim Arbi, Presiden Prabowo sekarang punya momentum strategis untuk melakukan reformasi kelembagaan yang berani. Dengan mandat politik yang kuat, dia dinilai punya ruang gerak luas untuk membenahi institusi negara. Tidak perlu terjebak kalkulasi elektoral jangka pendek.
Kalau Prabowo berani menata ulang posisi Polri, itu akan dibaca rakyat sebagai keberpihakan pada supremasi hukum, bukan pada kekuasaan.
Langkah seperti itu juga bisa menepis kekhawatiran publik soal penggunaan aparat untuk kepentingan politik tertentu. Untuk jangka panjang, reformasi ini diyakini bisa mengembalikan marwah Polri sebagai pelindung masyarakat.
Soal polisi ini bukan isu elitis. Ia nyentuh langsung kehidupan sehari-hari rakyat mulai dari tilang di jalan, penanganan kriminal, sampai konflik agraria. Makanya, reformasi Polri punya resonansi sosial yang luas.
Muslim Arbi yakin, mayoritas rakyat akan mendukung Prabowo jika reformasi ini dijelaskan dengan terbuka. Rakyat, katanya, tidak anti-polisi. Yang ditolak itu praktik kesewenang-wenangan dan ketidakadilan.
“Rakyat ingin polisi yang adil, tidak tebang pilih, tidak tajam ke bawah tumpul ke atas. Reformasi struktural adalah pintu masuknya,”
tegasnya.
Ada yang khawatir langkah ini justru melemahkan Polri. Tapi kekhawatiran itu dinilai tidak berdasar. Justru sebaliknya, dengan struktur yang sehat, Polri akan lebih fokus pada tugas utamanya: menegakkan hukum dan melayani publik. Bukan jadi alat kekuasaan atau institusi yang kebal kritik.
Bagi Prabowo, ini lebih dari sekadar urusan administrasi. Ini ujian kepemimpinan. Mau terus pertahankan model lama yang problematik, atau berani melangkah ke tata kelola yang lebih demokratis?
Sejarah nanti yang akan mencatat. Siapa pemimpin yang berani membenahi institusi penegak hukum demi rakyat dan masa depan demokrasi.
“Dan jika langkah itu diambil, dukungan rakyat bukan sesuatu yang mustahil melainkan keniscayaan,”
pungkas Muslim Arbi.
Artikel Terkait
Dari Tuduhan ke Tangan Terbuka: Gelombang Dukungan untuk Tukang Es Gabus Sudrajat
TPU Kebon Nanas Disulap, 2.500 Petak Makam Baru Gantikan Permukiman Liar
Gus Ipul Pacu Digitalisasi Bansos, Uji Coba Dimulai dari Banyuwangi
BGN Larang Bawa Pulang Makanan Gratis, Sekolah Wajib Awasi Konsumsi di Tempat