Julaybib Al-Qassam
Di sudut kota Gaza, tepatnya di Masjid Saad al-Anshari, ada satu suara yang paling akrab. Suara Zakaria al-Attar. Setiap hari, lantunan azannya menggetarkan langit, memanggil umat dengan kalimat "Hayya ‘alash-shalah, hayya ‘alal-falah". Bagi Zakaria, masjid itu bukan cuma tempat kerja. Di sanalah jiwanya ditempa.
Namun segalanya berubah total ketika fajar Thufanul Aqsha menyingsing pada 7 Oktober 2023. Di tengah debu dan reruntuhan, seruannya tak lagi sama. Ia tak cuma memanggil orang untuk salat. Sambil memegang senjata, suaranya pecah membelah udara: "Hayya ‘alal-jihad, hayya ‘alas-silah!" Mari berjihad, mari angkat senjata.
Ratusan hari berlalu. Zakaria memilih jalan yang sunyi dan berbahaya: masuk ke dalam kegelapan terowongan-terowongan di Beit Lahia, wilayah utara Gaza yang terkepung rapat. Di bawah tanah yang lembap dan dingin, ia menjelma menjadi sosok yang ditakuti musuh, tapi sangat dicintai kawan.
Banyak yang bilang, ia bertempur di garis paling depan dengan cara yang lain. Seolah-olah maut bukan sesuatu yang ditakuti, melainkan pintu menuju pertemuan yang dirindukan.
Kawan-kawan seperjuangannya punya panggilan khusus untuk Zakaria: Julaybib. Itu nama seorang sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang dicari-cari oleh Nabi saat ia syahid.
Tidak lama setelah menikah, Julaybib berangkat berjihad dalam sebuah pertempuran beberapa riwayat menyebut Perang Uhud. Ia gugur setelah berhasil menumbangkan tujuh musuh.
Usai perang, Rasulullah SAW secara khusus mencari jenazahnya. Beliau berkata, "Dia adalah bagian dariku dan aku adalah bagian darinya." Rasulullah sendiri yang memangkunya, lalu memakamkannya.
Nah, bagi mereka yang berjuang bersama Zakaria, sosoknya seakan menghidupkan kembali Sang Julaybib itu. Ia tidak cari ketenaran. Ia hanya ingin baktinya diterima.
Hingga akhirnya, di suatu hari di utara Beit Lahia, langkahnya terhenti. Dalam kontak senjata yang sengit dengan pasukan penjajah, Zakaria bertahan tegak sampai nafas terakhir. Ia gugur setelah memberi perlawanan yang luar biasa.
Kabarnya menyebar cepat. Kawan-kawannya menulis kalimat yang singkat tapi dalam: "Julaybib hidup, dan kini Julaybib telah pulang."
Ia pergi. Sebagai seorang ksatria. Sebagai bagian dari legenda kepahlawanan Gaza yang takkan mudah dilupakan.
Semoga Allah merahmati dan menerimanya dalam barisan syuhada.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu