Bencana di Bandung Barat: Bukan Longsor Biasa, Tapi Jebolnya "Bendungan" Alam
Dini hari Sabtu lalu, kawasan Cisarua dan Lembang di Bandung Barat diguncang bencana. Rumah-rumah tersapu, jalanan tertutup lumpur. Tapi menurut Imam Achmad Sadisun, pakar longsor dari ITB, ini bukan sekadar tanah bergerak. Ada mekanisme yang jauh lebih ganas di baliknya: jebolnya bendungan alami di hulu sungai. Dan ancamannya, kata dia, belum tentu berakhir.
Imam menjelaskan, peristiwa yang menerjang Kampung Pasirkuning, Pasirkuda, dan Sukadami itu sebenarnya adalah aliran lumpur atau mudflow. Destruktif banget. "Rumah-rumah warga sebenarnya tidak longsor pada lereng-lereng tempat mereka berdiri," ujarnya di Bandung, Senin (26/1).
"Tetapi terdampak material longsoran yang dikirim dari hulu melalui alur sungai."
Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Intinya, ada sumbatan besar atau landslide dam yang terbentuk di hulu, tepatnya di lereng selatan Gunung Burangrang. Material longsor itu menutup alur sungai, lalu jadi penahan air. Airnya terus terkumpul, jenuh, dan akhirnya... jebol. Seketika. Muatannya bukan cuma air, tapi gelombang lumpur, pasir, sampai bongkahan batu yang meluncur dengan kecepatan tinggi.
Nah, di sini Imam memberi penekasan. Banyak yang langsung menyalahkan alih fungsi lahan. Memang itu faktor, tapi bukan satu-satunya. Ada interaksi kompleks di baliknya. Kawasan vulkanik tua seperti ini punya lapisan pelapukan yang tebal. Saat hujan turun berdurasi panjang, pori-pori tanah jadi jenuh. Kekuatan geser lereng pun anjlok drastis, dan materialnya meluncur, menutup sungai. Proses alamiah ini yang memicu bencana berantai.
Artikel Terkait
Aktivis Muhammadiyah Soroti Pencabutan HGU: Prabowo Tunjukkan Ketegasan Lawan Oligarki
Polemik Masjid Liliba: Pemkot Kupang Tegaskan Aturan, Bukan Penolakan
Gus Umar Sindir Gibran: Wapres Hasil Obrak-abrik Konstitusi
Gadis 9 Tahun Terseret Motor Usai Berjuang Pertahankan HP dari Pencuri