Sabtu lalu (24/1), suasana di lapangan latihan militer Kuba terasa tegang dan serius. Presiden Miguel Diaz-Canel hadir langsung, menyaksikan dengan seksama setiap manuver pasukannya. Latihan ini bukan sekadar rutinitas. Tujuannya jelas: mengantisipasi dan mencegah potensi agresi dari Amerika Serikat.
Ancaman dari Gedung Putih memang nyata. Presiden AS Donald Trump sebelumnya sudah memberi ultimatum: buat kesepakatan baru, atau bersiaplah menghadapi konsekuensi. Venezuela, yang jadi korban serangan AS dan penangkapan terhadap pemimpinnya Nicolas Maduro, dijadikan contoh. Ancaman itu bukan main-main.
Bagi Kuba, ancaman terhadap Venezuela adalah ancaman langsung bagi mereka sendiri. Negara itu bukan cuma sekutu utama, tapi juga pemasok minyak yang vital. Trump dengan tegas mengancam akan memutus aliran minyak dari Caracas ke Havana jika Kuba tak mau berunding ulang. Situasinya jadi makin runyam.
Di lapangan, Diaz-Canel tidak sendirian. Di sampingnya berdiri Menteri Angkatan Bersenjata, Jenderal Alvaro Lopez Miera, bersama sederet perwira tinggi lainnya. Mereka menyimak gelaran kekuatan, termasuk unit tank yang bergerak dengan gagah. Semuanya tampak siap siaga.
Artikel Terkait
Anggota Komcad Diamankan di Warung Padang Sambian Terkait Senjata Ilegal
Sawah Berbisik Data: Ketika Petani dan AI Menyulam Masa Depan Pangan
Dua Polisi Gugur Tertabrak Truk TNI Saat Bertugas di Cisarua
Gelombang Pelapor WNI Korban Sindikat Kamboja Mulai Mereda