Mengembalikan Martabat Berpikir dalam Arus Deras AI
Ada teori menarik dari Amartya Sen soal capability approach. Intinya, kapabilitas seseorang tidak ditentukan oleh sumber daya yang dia punya, tapi oleh kemampuannya mengubah sumber daya itu menjadi tindakan dan keputusan yang bermakna. Dalam dunia pendidikan sekarang, akses informasi jelas bukan hambatan lagi. Yang krusial justru kemampuan untuk mengubah informasi tadi menjadi pemahaman yang matang. AI di tangan pelajar baru akan berguna ketika proses konversinya didukung oleh kemampuan individu dan bimbingan akademik yang tepat.
Karena itulah, pendidikan harus berani mengembalikan martabat berpikir ke posisi sentral. AI tidak boleh menggantikan proses bernalar. Ia cuma boleh jadi pemantik rasa ingin tahu. Pelajar perlu diarahkan untuk menelusuri argumen dan membangun pemahamannya sendiri lewat proses yang kritis. Sistem penilaian juga harus berubah. Proses berpikir perlu ditimbang, bukan cuma hasil akhirnya. Pertanyaan kritis harus dihargai setara dengan jawaban yang benar, karena dari situlah ketajaman nalar bertumbuh.
Wacana pemerintah yang mendorong penguatan literasi membaca dan menulis akademik sebenarnya momentum bagus. Tapi, kebijakan seperti ini jangan sampai jadi sekadar kewajiban administratif belaka. Ia harus jadi sarana untuk membangun kapabilitas bernalar. Pelajar tidak cukup disuruh baca dan tulis referensi. Mereka perlu dibimbing untuk mendiskusikan argumen, menguji logika bacaan, dan merefleksikan makna dari pengetahuan yang mereka dapat. Tanpa pendekatan ini, kebijakan literasi hanya akan menambah beban formal tanpa menyentuh akar masalah: kedangkalan berpikir.
Transformasi pendidikan Indonesia harus dimulai dari keberanian untuk keluar dari obsesi pada kecepatan. Kurikulum perlu memberi ruang lebih luas untuk analisis dan refleksi yang dalam. Para pendidik harus menilai alur berpikir muridnya. Lembaga pendidikan wajib membangun iklim akademik yang menghargai dialog dan perbedaan pendapat. Dengan cara ini, pendidikan tak lagi terjebak dalam budaya ‘selesai cepat’ yang hanya mengejar ketuntasan. Perubahan semacam ini tentu butuh kesabaran. Membangun budaya berpikir mendalam tidak bisa dilakukan secara instan dan justru di situlah letak antitesisnya terhadap dominasi AI.
Pada akhirnya, teknologi boleh saja berlari kencang. Tapi hanya manusia yang bisa menemukan makna. Masa depan tidak akan dimenangkan oleh mereka yang paling cepat, melainkan oleh mereka yang paling jernih melihat arah. Jika lembaga pendidikan berhasil mempertajam nalar dan memelihara refleksi, maka AI bukan lagi ancaman. Ia akan menjadi sekutu yang memperkuat martabat kita sebagai manusia.
Artikel Terkait
Kuba Gelar Latihan Militer, Siap Hadapi Ancaman AS
Sawah Berbisik Data: Ketika Petani dan AI Menyulam Masa Depan Pangan
Dua Polisi Gugur Tertabrak Truk TNI Saat Bertugas di Cisarua
Gelombang Pelapor WNI Korban Sindikat Kamboja Mulai Mereda