Wamen KKP Lepas Tiga Korban Kecelakaan Gunung Bulusaraung, Apresiasi Semangat Gotong Royong Evakuasi

- Minggu, 25 Januari 2026 | 15:12 WIB
Wamen KKP Lepas Tiga Korban Kecelakaan Gunung Bulusaraung, Apresiasi Semangat Gotong Royong Evakuasi

Suasana hening menyelimuti AUP Kelautan dan Perikanan di Pasar Minggu, Minggu (25/1) lalu. Di sana, Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, Laksamana TNI (Purn) Didit Herdiawan Ashaf, menyampaikan penghormatan terakhir sekaligus melepas tiga jenazah korban kecelakaan maut di Gunung Bulusaraung. Mereka adalah Kapten Pilot Andy Dahananto, serta dua pegawai KKP, Ferry Irawan dan Yoga Naufal.

Didit tak bisa menyembunyikan duka yang mendalam. Dalam sambutannya, ia menyatakan belasungkawa atas gugurnya tujuh kru pesawat dan pegawai KKP tersebut. Pesawat ATR 42-500 itu jatuh pada 17 Januari 2026, saat sedang menjalankan misi pengawasan sumber daya kelautan.

“Saya pribadi dan atas nama keluarga besar Kementerian Kelautan dan Perikanan, turut berduka cita yang sangat dalam,” ujar Didit.

Namun begitu, di balik kesedihan, terpancar apresiasi yang luar biasa. Didit secara khusus menyoroti kerja keras tanpa henti dari semua pihak yang terlibat dalam pencarian dan evakuasi. Operasi yang berlangsung sekitar tujuh hari itu, kata dia, adalah bukti nyata semangat gotong royong.

“Saya juga mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Bapak Menteri Perhubungan, Gubernur Sulsel, Kepala Basarnas, Kapolda, Panglima Kodam Hasanuddin, serta seluruh aparat dan relawan yang telah membantu siang dan malam tanpa kenal lelah,” tuturnya.

Ia menegaskan, para korban layak dihormati setinggi-tingginya. Mereka gugur bukan dalam keadaan biasa, melainkan saat menjalankan tugas negara untuk menjaga kedaulatan laut Indonesia. Menurut Didit, mereka adalah patriot bangsa.

“Kita semua menjadi saksi bahwa semua almarhum dalam keadaan yang sangat mulia, menjadi syuhada dan patriot bangsa,” ungkapnya.

Di sisi lain, KKP juga memastikan tidak melupakan keluarga yang ditinggalkan. Ada komitmen kuat untuk memenuhi hak-hak mereka sesuai aturan. Tak cuma santunan, anak-anak dari almarhum juga akan mendapat dukungan untuk melanjutkan pendidikan.

“Bagi keluarga almarhum yang ditinggalkan, tentunya akan diberikan santunan sesuai ketentuan yang berlaku serta anak almarhum akan diberikan beasiswa pendidikan,” tandas Didit.

Upacara pelepasan itu pun menjadi penutup yang penuh khidmat dari sebuah operasi panjang yang melelahkan. Sebuah tragedi yang meninggalkan duka, namun juga menunjukkan betapa tingginya penghargaan bagi mereka yang gugur di garis tugas.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar