Pekan ini, para negosiator Amerika Serikat dan Iran bersiap untuk kembali ke Islamabad. Tujuannya jelas: melanjutkan pembicaraan demi mengakhiri perang yang berkepanjangan. Menariknya, upaya diplomasi ini tetap berjalan meski langkah-langkah keras, seperti blokade pelabuhan Iran oleh AS, masih berlaku dan memanaskan situasi.
Menurut sejumlah sumber yang dilansir Reuters, Selasa lalu, perundingan lanjutan memang sangat mungkin digelar di ibu kota Pakistan itu. Retorika dari Teheran memang keras menyikapi blokade, tapi di balik layar, sinyal bahwa jalur dialog masih terbuka ternyata cukup kuat.
Seorang sumber dalam pembicaraan itu bahkan menyebut, kedua pihak bisa kembali ke meja perundingan lebih cepat dari perkiraan. "Mungkin saja akhir pekan ini," katanya. Sebuah proposal konkret pun konon sudah sampai di meja Washington dan Teheran, meminta mereka untuk mengirim kembali delegasinya.
"Belum ada tanggal pasti yang ditetapkan, namun delegasi membuka kemungkinan dari Jumat hingga Minggu," ujar seorang sumber senior Iran, memberikan gambaran waktu yang cukup mepet.
Di sisi lain, dari kubu Amerika, Presiden Donald Trump mengungkapkan bahwa Iran telah melakukan kontak pada Senin. Mereka, katanya, ingin mencapai sebuah kesepakatan. Namun Trump bersikukuh dengan garis merahnya.
Ia menegaskan, AS tak akan pernah menyetujui perjanjian apa pun yang membiarkan Teheran mengembangkan senjata nuklir. Poin ini tetap menjadi batu sandungan utama.
Konflik ini sendiri punya akar yang rumit. Sejak AS dan Israel memulai aksi militer pada akhir Februari lalu, Iran langsung bereaksi dengan menutup Selat Hormuz. Hanya kapal-kapal benderanya sendiri yang boleh lewat, itupun dengan syarat ketat dan dikenai biaya. Padahal, selat sempit itu adalah urat nadi energi global; hampir seperlima pasokan minyak dan gas dunia pernah mengalir melaluinya. Dampak penutupan ini terasa luas sekali.
Sebagai balasan, militer AS tak tinggal diam. Mereka mengumumkan mulai memblokir lalu lintas kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran mulai Senin lalu. Teheran pun membalas dengan ancaman: kapal angkatan laut yang melintas bisa diserang, dan pelabuhan negara-negara tetangga di Teluk tak akan aman. Suasana jadi mencekam.
Namun begitu, satu hari setelah blokade AS diumumkan, situasi di lapangan terlihat lebih tenang dari yang dibayangkan. Belum ada laporan tindakan langsung Washington untuk menegakkan kebijakan blokade itu terhadap kapal-kapal yang melintas.
Data pelayaran terbaru justru menunjukkan sesuatu: setidaknya tiga kapal tanker yang dikaitkan dengan Iran terpantau melintas dengan tenang di Selat Hormuz. Mereka tidak menuju atau berasal dari pelabuhan Iran. Sebuah detail kecil yang mungkin punya arti besar, atau mungkin hanya jeda sebelum badai berikutnya datang.
Artikel Terkait
Timnas Indonesia Coret Eliano Reijnders dan Jordi Amat dari Skuad FIFA Matchday Juni 2026
BULOG Benahi Tata Kelola Pabrik Gula GMM demi Petani Tebu Blora
Metode Kakeibo: Teknik Pencatatan Manual dari Jepang untuk Disiplin Menabung dan Mengurangi Belanja Impulsif
Sekretaris Kabinet Bantah Kunjungan Luar Negeri Prabowo Sekadar Seremonial, Sebut Ada Capaian Konkret