Namun begitu, memperluas partisipasi saja tidak cukup. Perlu ada upaya konsisten untuk menjangkau sekolah-sekolah dan mengubah stigma. Banyak yang masih mengira MUN itu membosankan, terlalu serius, atau rumit. Padahal, jika dicoba, rasanya bisa lebih menarik daripada lomba-lomba konvensional.
"Jadi, saran saya konsisten. Terus outreach-nya atau penjangkauannya diperluas. Sekolah Katolik atau yang swasta Muslim itu harus banyak diajakin supaya mereka bertanya ini apaan ya. Nanti dari sana mereka melihat, oh ini lebih menarik daripada hanya lomba debat atau lomba bahasa Inggris,"
Di sisi lain, peran pemerintah dinilai sangat krusial. Calvin secara khusus menyebut Kementerian Luar Negeri. Menurutnya, Kemlu perlu turun tangan dan mendorong semangat diplomasi publik ini hingga ke tingkat pelajar. Potensi anak-anak SMA di bidang hubungan internasional, kata dia, masih sangat besar dan sayang jika tidak digarap.
"Harusnya Kementerian Luar Negeri yang bergerak turun. Harusnya ada yang namanya satu kantor di Kementerian, mungkin namanya Direktorat Diplomasi Publik, mereka juga mulai melihat MUN di level ini, SMA. Kami juga bisa mendorong pemda-pemda,"
Lebih dalam lagi, Calvin melihat ada keselarasan yang menarik. Nilai-nilai inti dalam MUN, ternyata sangat sejalan dengan budaya lokal Indonesia. Yaitu budaya musyawarah untuk mufakat. Nilai yang selama ini kita junjung tinggi dalam kehidupan sehari-hari.
"Karena budaya Indonesia itu sebenarnya buat saya itu paling efektif di dunia internasional. Budaya musyawarah mufakat, kita kan suka nongkrong ya, suka ngeriung gitu kan. Budaya itu membuat setiap kali kita ada masalah kita rembukin dulu,"
Budaya rembugan ini, lanjutnya, bahkan sudah diadopsi dalam mekanisme penyelesaian konflik di ASEAN. Pola dialog dan jalan damai lebih diutamakan daripada konfrontasi. Karakter budaya inilah yang menurut Calvin menjadi keunggulan tersendiri. Ia yakin, hal ini memudahkan anak muda Indonesia beradaptasi dengan atmosfer diskusi di MUN.
"Budaya musyawarah mufakat itu diadopsi ke level Asia Tenggara karena Indonesia suka ngeriung. Budaya Indonesia itu membawa suasana santun, walaupun kita sendiri suka ribut, tapi ributnya kita kan selalu selesai dengan turun rembuk, jalan damai, ya ngobrol gitu kan,"
Jadi, intinya bukan sekadar menambah jumlah acara. Tapi tentang membuka akses, mengubah persepsi, dan menyadari bahwa sebenarnya kita punya modal budaya yang kuat untuk unggul di forum semacam ini. Tinggal bagaimana caranya agar lebih banyak anak muda yang berani mencoba dan merasakan manfaatnya langsung.
Artikel Terkait
Emak-emak Warung Depok Gagalkan Pencurian Saat Tertidur, Pelaku Diringkus Warga
Selebgram Lula Lahfah Meninggal Dunia di Apartemen Mewah Kebayoran
Tiga Hari Genangan, Warga Rawa Buaya Berjuang Usir Banjir
Dewan Perdamaian Gaza Trump Dinilai Abaikan Suara Palestina