MAKASSAR Sepak bola punya bintang-bintang yang selalu jadi pusat perhatian. Tapi ada juga pemain jenis lain. Mereka bekerja dalam diam, mengasah kemampuan, dan tiba-tiba muncul saat tim paling membutuhkan.
Rizky Eka Pratama, winger bernomor punggung 24 di PSM Makassar itu, jelas masuk golongan kedua.
Namanya mungkin tak selalu menghiasi halaman depan media olahraga. Tapi coba lihat musim ini. Beberapa kali, dialah yang muncul sebagai pembeda. Seperti golnya ke gawang PSBS Biak di Maguwoharjo, Sleman. Gol itu bukan sekadar pembuka skor. Lebih dari itu, ia memutus rantai panjang tujuh laga tanpa kemenangan untuk Juku Eja.
Bisa dibilang, gol itu seperti angin segar bagi tim yang sedang sesak napas.
Berasal dari Dunia yang Berbeda
Jalur menuju profesionalisme Rizky Eka tak biasa. Sebelum melesat di lapangan hijau, ia lebih dulu menghabiskan waktu di lapangan futsal. Ia adalah produk Keker Futsal League (KFL) 2017, sebuah ajang yang dikenal sebagai pencetak talenta-talenta muda Sulsel.
Dari sana, ia mengasah hal-hal yang kini jadi ciri khasnya: kontrol bola yang apik, nyali untuk duel satu lawan satu, dan kecerdasan mengambil keputusan di ruang sempit. Semua itu terbawa saat ia pindah ke lapangan besar.
Namanya mulai mencuat di 2019. Saat itu, banyak yang menyebutnya wonderkid-nya PSM. Gaya bermainnya yang eksplosif di sayap kiri bahkan sempat mengundang perbandingan dengan Febri Hariyadi dari Persib.
Tapi ya, jalan karier pemain bola jarang yang mulus.
Persaingan di posisi sayap PSM selalu ketat. Ada Yakob dan Yance Sayuri yang sudah mapan. Performanya pun sempat naik-turun, membuat sorotan publik datang dan pergi. Tapi Rizky tak lantas hilang. Ia bertahan, menunggu giliran.
Pemantik Momentum
Musim ini, tekanan di Makassar terasa begitu berat. Tujuh laga tanpa kemenangan adalah beban psikologis yang besar. Dalam situasi seperti itu, setiap gol punya nilai yang jauh lebih berarti.
Dan gol Rizky ke gawang PSBS itu jadi pemantik. Ia mengubah suasana.
Usai laga, Rizky mengungkapkan perasaannya.
“Syukur alhamdulillah atas hasil yang diberikan Tuhan kepada kami. Ini hasil yang lama kita inginkan. Terima kasih kepada teman-teman yang telah berjuang sehingga kita dapat hasil positif,” ujarnya.
Ia juga bicara soal kepercayaan. “Dengan motivasi diri sendiri untuk tampil lebih baik dan kepercayaan pelatih, saya bisa bermain baik hari ini. Tentunya berkat dukungan teman-teman juga kepada saya.”
Gol itu sendiri lahir dari skema serangan yang rapi. Bukan kebetulan, melainkan hasil dari proses.
Membuka Opsi Lain
Selama ini, serangan PSM kerap terpusat pada striker-striker asingnya. Ketika kontribusi datang dari sayap seperti Rizky, permainan tim jadi punya variasi. Lawan pun tak bisa lagi fokus menjaga satu-dua pemain saja.
Efek psikologisnya pun besar. Tak lama setelah babak kedua, Gledson Paixao berhasil menggandakan keunggulan. Meski pelatih Tomas Trucha mengaku timnya belum sempurna.
“Kami memulai pertandingan dengan tidak baik. Seharusnya sejak awal kami bermain lebih agresif. Kami butuh waktu untuk menemukan ritme,” kata Trucha.
Namun begitu, tiga poin itu tetaplah fondasi penting untuk membangun kembali moral skuad.
Ujian Melawan Sang Bintang
Kualitas Rizky juga teruji di laga-laga besar. Contohnya saat melawan Persija Jakarta. Di pertandingan berintensitas tinggi itu, ia beberapa kali membuat lini belakang Macan Kemayoran kalang kabut.
Yang menarik, bahkan Jordi Amat bek timnas yang penuh pengalaman harus keluar dari zona nyamannya untuk membendung pergerakan Rizky di sisi kiri.
Ada satu momen yang patut dicatat. Rizky melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti. Andritany Ardhiyasa gagam menahan sempurna, dan bola liar itu disambar Sheriddin Boboev menjadi gol penyama kedudukan. Boboev yang tercatat sebagai pencetak gol, tapi peran Rizky dalam membangun serangan itu sangat krusial.
Bisakah Menuju Timnas?
Belakangan, publik ramai membicarakan pemain-pemain yang layak dipanggil ke Timnas Indonesia. Kiper Persib, Teja Paku Alam, sering disebut sebagai contoh pemain impresif yang belum mendapat kesempatan.
Nah, Rizky Eka barangkali berada di posisi yang mirip.
Ia bukan nama yang paling bersinar. Tapi lihatlah konsistensi, keberaniannya menghadapi bek lawan, dan kemampuannya membuka ruang. Profil seperti itu membuatnya layak masuk dalam radar.
Timnas butuh pemain sayap yang agresif dan tak takut menyerang. Di situlah Rizky bisa jadi opsi yang menarik.
Tapi sepak bola memang penuh kejutan. Kesempatan sering datang dari pintu yang tak disangka.
Bagi Rizky Eka Pratama, perjalanan dari lapangan futsal hingga bisa membuat bek sekelas Jordi Amat bekerja keras, sudah membuktikan satu hal: ia selalu punya cara untuk tetap relevan.
Kadang, pintu Timnas tidak dibuka oleh nama yang paling gemerlap.
Melainkan oleh pemain yang paham betul kapan waktunya untuk tampil, di momen yang paling menentukan.
Artikel Terkait
Veda Ega Pratama Start ke-17 di Moto3 Spanyol, Kenangan Comeback 2025 Jadi Modal
PSM Makassar Jadi Batu Sandungan Potensial bagi Persib di Perebutan Gelar Super League
Veda Ega Pratama Start ke-17 di Kualifikasi Moto3 Spanyol, Catat Waktu Lebih Cepat tapi Gagal Bersaing
Pemerintah Makassar Gelontorkan Rp350 Miliar untuk Stadion Untia, Target Rampung 2027